Arsip untuk Agustus, 2010

Peran Media Informasi Berbasis Web dan Pemberdayaan Peran PIC TIK DJKN Untuk Peningkatan Pelayanan di DJKN


Peran Media Informasi Berbasis Web dan Pemberdayaan Peran PIC TIK DJKN Untuk Peningkatan Pelayanan di DJKN

Oleh : M. Eko Agus Y.

Pegawai pada KPKNL Jember

Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) merupakan unit eselon I di lingkungan Kementerian Keuangan RI yang memiliki tugas yang sangat variatif. Mulai dari mengelola Barang Milik Negara (BMN), Aset Bekas Milik Asing/Cina (ABMAC), pengurusan piutang negara, serta pelayanan lelang. DJKN juga memiliki multi interaksi dengan banyak pemangku kepentingan/stakeholder, mulai dari DPR, Kementerian/Lembaga, BUMN, maupun masyarakat.

Berangkat dari hal tersebut, sudah selayaknya DJKN memperkuat media informasi berbasis web untuk memberi informasi yang dibutuhkan oleh stakeholder. Saat ini memang DJKN telah memiliki website sebagai media informasi dengan alamat http://www.djkn.depkeu.go.id. Website DJKN tersebut memberikan informasi tentang kekayaan negara, piutang negara, maupun lelang.

Namun demikian, dengan stakeholder yang beragam dan tersebar di seluruh Indonesia, maka sangat diperlukan media website yang di kelola oleh masing-masing KPKNL. Website yang dikelola tersebut dapat menyesuaikan dengan kebutuhan stakeholder di masing-masing daerah dan menampilkan layanan unggulan dari masing-masing KPKNL. Misalnya KPKNL Lhokseumawe sedang memiliki agenda penetapan status penggunaan BMN, maka KPKNL Lhokseumawe dapat langsung memberikan informasi tentang prosedur penetapan status penggunaan BMN melalui website KPKNL Lhokseumawe. Di belahan pulau yang lain, misalnya KPKNL Bontang,stakeholder lebih banyak menginginkan informasi lelang, maka website KPKNL Bontang dapat menginformasikan tentang jadwal lelang kayu yang merupakan hasil hutan di Kalimantan yang sangat kaya dan luas.

Untuk membangun dan mengelola website di masing-masing KPKNL tersebut memang bukan perkara mudah. Namun, di masing-masing KPKNL, Kantor Pusat DJKN cq. Direktorat Hukum dan Informasi, sebenarnya telah menanam modal awal dengan adanya pegawai yang ditunjuk menangani Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), atau biasa disebut Person in Charge (PIC) TIK DJKN. Pegawai yang telah ditunjuk sebagai PIC itulah yang dapat diberdayakan untuk membangun dan mengelola website di masing-masing KPKNL sebagai administrator.

Agar masing-masing PIC TIK tersebut dapat mengelola website yang informatif, akurat, berkelanjutan, dan sesuai karakteristik masing-masing daerah, maka Kantor Pusat DJKN dapat memberikan pembekalan berupa bimbingan teknis pembangunan dan pemberdayaanwebsite. Bimbingan teknis tersebut dapat berupa pengenalan berbagai macam web server dan database yang biasa digunakan untuk membuat website. Selain itu juga dapat dikenalkan cara mengolah berita atau informasi yang informatif, berkelanjutan, serta tidak keluar dari rambu-rambu yang ditetapkan oleh Kantor Pusat DJKN.

Dengan semakin beratnya tugas DJKN kedepan, maka peningkatan peran media informasi berbasis web dengan memberdayakan PIC TIK DJKN sangat diperlukan untuk mencapai tujuan pelayanan TELADAN (Tertib, Lancar dan Amanah) di semua KPKNL. Dengan pelayanan TELADAN tersebut, harapan agar DJKN menjadi unit eselon I yang diperhitungkan keberadaannya akan dapat dicapai, DJKN memiliki peran penting dalam menyumbang opini Wajar Dengan Pengecualian (WDP) yang tidak lama lagi mudah-mudahan meningkat menjadi Wajar Tanpa Pengecualian (WTP). DJKN dapat mendukung penerimaan negara melalui Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), baik yang berasal dari optimalisasi pemanfaatan BMN, optimalisasi piutang negara termasuk juga penyerahan piutang daerah, maupun penerimaan dari lelang. Media informasi berbasis web dan PIC TIK DJKN di masing-masing KPKNL dapat bersinergi untuk mencapai tujuan tersebut.

DJKN satu untuk semua!!! one team one spirit one goal…..

sumber : www.djkn.depkeu.go.id

Tinggalkan komentar

SABAR ITU KATA YANG INDAH


Pernah ada anak lelaki dengan watak buruk. Ayahnya memberi dia sekantung penuh paku, dan menyuruh memaku satu batang paku di pagar pekarangan setiap kali dia kehilangan kesabarannya atau berselisih paham dengan orang lain.
Hari pertama dia memaku 37 batang di pagar. Pada minggu-minggu berikutnya dia belajar untuk menahan diri, dan jumlah paku yang dipakainya berkurang dari hari ke hari.
Dia mendapatkan bahwa lebih gampang menahan diri daripada memaku di pagar.
Akhirnya tiba hari ketika dia tidak perlu lagi memaku sebatang paku pun dan dengan gembira disampaikannya hal itu kepada ayahnya. Ayahnya kemudian menyuruhnya mencabut sebatang paku dari pagar setiap hari bila dia berhasil menahan diri/bersabar.
Hari-hari berlalu dan akhirnya tiba harinya dia bisa menyampaikan kepada ayahnya bahwa semua paku sudah tercabut dari pagar. Sang ayah membawa anaknya ke pagar dan berkata:
”Anakku, kamu sudah berlaku baik, tetapi coba lihat betapa banyak lubang yang ada di pagar.”
Pagar ini tidak akan kembali seperti semula. Kalau kamu berselisih paham atau bertengkar dengan orang lain, hal itu selalu meninggalkan luka seperti pada pagar.
Kau bisa menusukkan pisau di punggung orang dan mencabutnya kembali, tetapi akan meninggalkan luka. Tak peduli berapa kali kau meminta maaf/menyesal, lukanya tinggal.
Luka melalui ucapan sama perihnya seperti luka fisik.
Kawan-kawan adalah perhiasan yang langka. Mereka membuatmu tertawa dan memberimu semangat.
Mereka bersedia mendengarkan jika itu kau perlukan, mereka menunjang dan membuka hatimu.
Tunjukkanlah kepada teman-temanmu betapa kau menyukai mereka.

sumber : klik disini

1 Komentar

Pegawai Honorer Kemenkeu Kembali Berunjuk Rasa


Speedtest

Pegawai honorer di Kementerian Keuangan (Kemenkeu) kembali berunjuk rasa hari ini, Jumat (20/8/2010). Mereka menuntut Menteri Keuangan mengangkat mereka sebagai pegawai negeri sipil (PNS).

Berdasarkan rilis tertulis yang diterima , aksi pegawai honorer tersebut akan digelar pukul 10.00 WIB di depan Gedung Kemenkeu, Jalan Wahidin, Jakarta Pusat.

Rencananya pengunjuk rasa akan melakukan aksi ritual tahlilan dan yasinan agar Menkeu Agus Martowardojo mendengar aspirasi mereka.

Sementara berdasarkan informasi di situs Ditlantas Polda Metro Jaya, tercatat dua aksi unjuk rasa yang digelar hari ini. Pertama, Aliansi Masyarakat Peduli Daerah Bangka Selatan yang berdemo di depan Kantor Mabes Polri, Jakarta Selatan. Sementara, demo lainnya akan digelar karyawan  PT. Flaxipac Tangerang.

sumber : klik disini

2 Komentar

Humor Ramadhan (2)


Haruskah Aku Pergi Lebih Jauh Lagi?

Suatu malam, istri Nashruddin berkata kepadanya, “Menjauhlah sedikit dariku.”

Dengan cepat Nashruddin mengambil sepatunya dan berjalan menempuh jarak perjalanan selama dua jam. Ketika menjumpai seseorang, dia berkata kepadanya,”Jika engkau berjumpa dengan istriku, sampaikan padanya, haruskah aku pergi lebih jauh lagi?”

Andai Dia Mencuri Sesuatu

Seorang pencuri masuk ke rumah Nashruddin. Istrinya berkata kepadanya dengan ketakutan, “Bukankah engkau melihat seorang pencuri yang sedang mengitari rumah ini?”

Nashruddin menjawab dengan tenang, “Janganlah engkau tergesa-gesa menuduhkan sesuatu kepadanya. Seandainya dia mencuri sesuatu, maka dengan mudah aku akan merebutnya.”

Di Malam Bulan Purnama

Saat malam purnama, Nashruddin memandangi sebuah taman miliknya. Dia lalu berkhayal, seakan-akan ada sesosok bangkai yang tergeletak di situ. Nashruddin kemudian membangunkan istrinya dan berkata kepadanya, “Cepat! ambilkan busur dan panah itu.”

Istri Nashruddin melaksanakan perintah itu dan dia sendiri kemudian memanah bangkai itu hingga terkena bagian perutnya. Hati Nashruddin menjadi tenang dan dia kembali ke tempat tidurnya.

Pagi harinya, Nashruddin pergi ke taman miliknya itu untuk mencari bangkai yang telah dipanah semalam, namun dia tidak mendapatkannya. Dia hanya melihat sebuah jubah tebal yang koyak di bagian pusarnya. Nashruddin langsung bersyukur kepada Allah dan bersujud.

Istrinya berkata padanya, “Apa gerangan yang terjadi sehingga engkau sujud begitu khusuk?” Nashruddin menjawab, “Dasar perempuan bodoh, engkau tidak melihat bahwa panah itu tepat mengenai pusarnya dan mengoyaknya. Andai aku mengenakannya, tentu engkau tahu apa yang akan terjadi; aku akan terluka dan matui!” Nashruddin lalu menunduk dan memegang perutnya dengan kedua tangannya sembari mengucapkan hamdallah.

Keributan Hilang, Mantel pun Melayang

Suatu saat, di tengah malam, Nashruddin mendengar suara ribut di depan rumahnya; dia ingin mengetahui penyebab keributan itu. Namun istri Nashruddin melarangnya dan berkata kepadanya, “Tetaplah engkau di tempat tidurmu dan jangan keluar malam-malam seperti ini.” Nashruddin tidak peduli pada omongan istrinya. Dia lalu keluar sembari meraih mantelnya untuk menutupi tubuhnya.

Saat sedang berjalan di antara kerumunan orang untuk mengetahui sumber keributan, seseorang yang tidak dikenal mendekati Nashruddin dan menarik mantelnya serta membawanya kabur dan menghilang di kegelapan. Nahsruddin menoleh ke kanan dan ke kiri, namun dia tidak melihat seorang pun karena malam itu memang gelap sekali. Pada saat itulah orang-orang mulai membubarkan diri, sehingga tak seorang pun tinggal di sekitar situ.

Dalam kesunyian seperti itu, Nashruddin merasakan udara yang sangat dingin sekali. Dengan tubuh menggigil, dia pulang ke rumah. Di depan pintu, di disambut istrinya dan menanyakan tentang sumber keributan itu. Nashruddin pun menjawab, “Begitu mantelku melayang, keributan pun hilang.”

Tinggalkan komentar

RELIGI : Kisah Suparni, dari Prostitusi ke Tasbih


Ilustrasi prostitusi.

Suparni adalah potret kebanyakan dari perempuan yang terjerumus ke prostitusi. Ia miskin papa. Beruntung, sebelum jauh terjerumus, Suparni sudah insaf.

Kini, dalam usia 60 tahun, Suparni adalah tukang cuci baju dan pemijat. Yang lebih menyentuh lagi, dia aktivis sebuah majelis Yasinan di desanya, Kepuhkembeng, Kecamatan Peterongan, Jombang, Jawa Timur.

Siapa pun tentu tak pernah bercita-cita menjadi pelacur, profesi yang disebut dengan macam-macam sebutan; kupu-kupu malam, wanita tuna susila, perempuan eksperimen, dan pekerja seks komersial. Belum lagi yang sangat kasar dalam aneka bahasa daerah di Indonesia.

Tetapi, inilah potret seorang Suparni, si kupu-kupu malam yang bertobat. Malam itu, setelah selesai memijat pelanggannya, berceritalah Suparni tua tentang Suparni muda.

Ia menikah cepat, bercerai dengan segera pula. Suaminya dari Desa Mojongapit, Kecamatan Jombang Kota. Ketika bercerai pada tahun 1950-an itu, usianya baru 19 tahun. Jakarta tentu sedang sibuk dengan jargon-jargon besar di bawah bendera revolusi.

Suparni memang masih punya orangtua, Ngatemo-Sampiran, tetapi mereka hanya penjual kacang keliling. Suparni tak bisa diam ketika melihat orangtuanya lebih sering hanya makan sekali dalam sehari. Dia bertekad membantu.

Namun, dengan pendidikan formal tak lulus SD, Suparni menyadari dirinya tak bisa bekerja di pabrik. Jalan pintas pun ditempuh. Diantar orangtuanya, dia nekat menumpang angkutan menuju Watutulis, Sidoarjo.

Suparni mengenang, di Watutulis saat itu ada lokalisasi kelas bawah berupa warung remang-remang. “Sekarang mungkin sudah tidak ada,” kata Suparni.

Watutulis adalah wilayah tua yang mulai ramai berkat baron-baron Eropa mendirikan pabrik gula menjelang rampungnya abad 19. Lazim terjadi, prostitusi marak di sekitar orang ramai macam pabrik gula.

Sejarah memberitahu, pabrik-pabrik gula segera bertebaran setelah Gubernur Jenderal Belanda Van Den Bosch pada 13 Agustus 1830 setuju penanaman tebu besar-besaran di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Pabrik gula di sana masih berdiri sampai sekarang, nama resminya PG Watoetoelis. Ia tak terlalu jauh dari PG Toelangan, Sidoarjo, yang dipakai Pramoedya Ananta Toer untuk setting novel masyhurnya, Bumi Manusia.

Adapun Suparni tak mengais uang dengan jual tubuh di sana. Selanjutnya, dia berpindah-pindah lokalisasi. Mula-mula lokalisasi Jarak di Surabaya, kemudian lokalisasi Balongcangkring asuhan mendiang Suwono Blong di Mojokerto. Itu dilakoninya hingga tahun 1975.

Yang unik, di kompleks mana pun dia berpraktik, hampir tiap hari Suparni selalu pulang ke rumahnya di Jombang.

“Saya berangkat dengan menumpang truk sore hari, dan pulang ke rumah subuh. Kalau kebetulan hujan, saya berpayung daun pisang diantar bapak sampai di tepi jalan untuk mencegat truk yang lewat,” katanya.

Cara itu dilakukan karena dia setiap hari harus menyerahkan uang hasil kerjanya kepada orangtuanya, dan demi merawat dua keponakannya yang masih kecil, yang ikut di rumah kedua orangtuanya.

Suparni mengaku cukup “laris” di mana pun dia berpraktik. Rahasianya, dia hampir selalu memberikan servis lebih kepada laki-laki hidung belang konsumennya.

“Kalau habis main, biasanya saya pijat tubuhnya,” kata Suparni membeberkan rahasianya. Itu sebabnya, imbuh Suparni, laki-laki hidung belang yang sudah pernah dilayaninya, bukan hanya satu kali datang, melainkan beberapa kali.

Aktivitas jual jasa seks di kompleks-kompleks PSK mulai dihentikan akhir tahun 1970-an. Namun, aktivitas prostitusinya jalan terus. Sebab, saat itu dia punya gendhakan tetap, seorang pengemudi truk angkutan minyak tanah asal Ambon yang berdomisili di Jombang.

“Saya biasanya diajak ke rumahnya. Kebetulan dia tidak punya istri, perjaka tua,” imbuh Suparni.

Tetapi, itu tak berlangsung lama. Tahun 1980, dia mendadak terserang diare kronis, hingga harus digotong ke rumah sakit. Dia sempat mengira ajal akan segera menjemputnya. Saat itulah dia menyadari dirinya bergelimang dosa, sedangkan bekal untuk mati sama sekali belum ada.

Dalam keadaan sakit, Suparni lantas berjanji dalam hati untuk menghentikan pekerjaannya yang penuh dosa dan akan kembali ke jalan yang diridai Allah setelah sembuh.

Awalnya, niat kembali ke jalan yang benar itu tidak gampang dilakoni. Banyak godaan yang berupaya untuk membawanya kembali ke dunia hitam.

Gendhakan-nya sendiri, misalnya, ngotot agar Suparni tetap bekerja seperti sedia kala. Bahkan, si gendhakan berjanji akan segera menikahinya jika Suparni tetap menjalani profesinya.

“Tapi saya tak percaya. Masak mau memperistri, tapi kok juga menjerumuskan. Saya lantas meninggalkan dia,” tutur Suparni.

Dari para tetangga, cibiran-cibiran dan kecurigaan juga muncul tatkala Suparni mulai banting setir dengan bekerja serabutan, mulai cuci baju, bersih-bersih rumah, serta ikut membantu tetangga menyiapkan sate ayam untuk dijual keliling.

“Tapi, saya berusaha sabar. Bagi saya waktu itu, apa pun pekerjaan akan saya lakukan asalkan halal. Tak peduli apa omongan orang,” katanya.

Akhirnya, karena kesungguhan Suparni untuk kembali ke jalan yang benar, masyarakat di desanya mulai menaruh kepercayaan. Mereka yang tahu Suparni juga bisa memijat, mulai memakai jasanya.

Karena pijatannya manjur untuk mengatasi pegal linu dan capek, nama Suparni jadi dikenal sehingga permintaan pijat cukup banyak berdatangan. Sekali memijat, Suparni biasanya dibayar Rp 20.000 sampai Rp 25.000.

Permintaan pijat berasal dari warga tetangga sedesa ataupun warga desa lain. Para pelanggannya ada yang profesi tukang becak, ibu rumah tangga, ustaz, ustazah, sampai pegawai bank, guru, dan dosen.

“Kalau ada pelanggan di luar desa, biasanya saya dibonceng sepeda motor oleh kerabat atau anaknya,” jelas Suparni.

“Tidak tahu, selalu saja tiap hari ada orang yang minta dipijat. Saya jadi percaya, asalkan kita sungguh-sungguh bekerja dan pekerjaan itu halal, Tuhan akan memberi kita rezeki,” katanya.

Suparni juga merasakan, rezeki yang halal ternyata membawa barokah. Sekarang, meskipun sedikit-sedikit, dia bisa menabung. Padahal, sehari-hari dia pun turut membantu ekonomi keluarga keponakannya yang tinggal bersamanya saat ini.

“Dulu, ketika masih jadi ‘orang nakal’, dapat duit gampang dan jumlahnya cukup banyak. Tapi selalu cepat habis tak berbekas,” katanya.

Seiring dengan itu, aktivitas ibadahnya juga kian ditingkatkan, baik ibadah pribadi seperti shalat lima waktu berjemaah di mushala dusun setempat maupun aktif menjadi majelis Yasinan. Seorang tetangganya mengatakan, dia tak pernah melihat Suparni absen di pengajian.

Kalau malam tiba, jika lagi tidak ada kegiatan atau panggilan pijat, dia memilih nongkrong di depan pesawat televisi. Hobinya memang nonton sinetron religi Ketika Cinta Bertasbih.

sumber : klik disini

2 Komentar

Puasa Ramadhan : Sarana Mensucikan Diri


Menyambut Ramadhan, banyak acara digelar kaum muslimin. Di antara acara tersebut ada yang telah menjadi tradisi yang “wajib” dilakukan meski syariat tidak pernah memerintahkan untuk membuat berbagai acara tertentu menyambut datangnya bulan mulia tersebut.

Penghapus Dosa

Ramadhan adalah bulan untuk menghapus dosa. Hal ini berdasar hadits Abu Hurairah

الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ لَمَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرُ

“Shalat lima waktu, dari Jum’at (yang satu) menuju Jum’at berikutnya, (dari) Ramadhan hingga Ramadhan (berikutnya) adalah penghapus dosa di antaranya, apabila ditinggalkan dosa-dosa besar.” (HR. Muslim)

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan dengan keimanan dan mengharap ridha Allah, akan diampuni dosa-dosanya yang terdahulu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah

berikut kumpulan doa sehari-hari untuk menambah kekhusyu’an ibadah puasa kita

download disini

Tinggalkan komentar

Laba-laba Raksasa Memangsa Burung


Foto laba-laba memangsa burung mengejutkan ahli marga satwa , foto itu diambil di daerah Atheron, dekat hutan tropis Queensland, Australia.

Joel Shakespeare, seorang petugas yang bekerja di Australian Reptile Park, menyatakan, laba-laba tersebut merupakan jenis Golden Orb Weaver. “Biasanya mereka menangkap serangga besar… sangat jarang mereka menangkap seekor burung,” ungkapnya kepada ninemsn.com.

Selain itu, dia menambahkan, laba-laba Golden Orb Weaver ini ukurannya sebesar telapak tangan manusia, tetapi spesies yang sama di bagian utara daerah itu diketahui ukurannya lebih besar lagi.

Menurut pihak Museum Queensland, burung tersebut adalah jenis Chestnut-breasted Mannikin. Joel Shakespeare menambahkan, “Burung itu pasti terbang ke arah sarang laba-laba tersebut dan terjerat di sana, laba-laba itu akan menyantapnya habis.”

“Laba-laba itu akan menggunakan racunnya untuk melunakkan dagingnya dan apa yang tersisa hanyalah ‘bungkusnya’,” ujarnya.

Pihak Museum Queensland, Greg Czechura, mengatakan, ”Memang diketahui secara umum, laba-laba jenis ini menangkap burung berukuran kecil, tetapi hal ini jarang terjadi. Laba-laba ini membangun sarang yang sangat kuat, tetapi dia tidak akan menggigit dan menyerang burung itu hingga burung itu lemah kehabisan tenaga,” ujarnya.

Laba-laba Golden Orb Weaver ini membangun pusaran jeratnya yang kuat dengan kandungan protein yang tinggi karena dia sangat bergantung padanya untuk menangkap serangga besar sebagai mangsanya.

sumber : klik disini

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: