Arsip untuk November, 2010

KPKNL Jember Berkomitmen Menjadi Lebih Baik


KPKNL Jember bersama instansi vertikal Kementerian Keuangan lainnya di Jember yaitu KPPN Jember dan KPP Pratama Jember melaksanakan serangkaian kegiatan untuk memperingati HUT Ke-64 Keuangan RI. Kegiatan diawali dengan pertandingan persahabatan olah raga pada tanggal 18-27 Oktober 2010 . Pertandingan tersebut meliputi pertandingan futsal, bola voli, tenis lapangan, tenis meja, bulu tangkis, catur, dan gaple.

Puncak kegiatan peringatan hari keuangan dilaksanakan pada tanggal 30 Oktober 2010 dengan melaksanakan upacara bendera. Untuk tahun 2010 ini adalah giliran KPPN Jember sebagai tuan rumah pelaksanaan upacara bendera memperingati HUT Ke-64 Keuangan RI.

Setelah upacara bendera, dilaksanakan kegiatan sosial donor darah yang bekerja sama dengan PMI Cabang Jember. Pada kesempatan tersebut, Kepala KPKNL Jember, Rahmat Effendi juga ikut mendonorkan darahnya beserta beberapa staf KPKNL Jember.

Komitmen Menjadi Lebih Baik

Dengan semangat HUT Keuangan RI Ke-64 tersebut, Rahmat Effendi menyampaikan bahwa KPKNL Jember terus berupaya meningkatkan pelayanan kepada stakeholder, baik di bidang pengelolaan kekayaan negara, piutang negara, maupun lelang. KPKNL Jember juga telah dipercaya untuk menjadi KPKNL TELADAN (Tertib, Lancar, dan Amanah) pada tahun 2011, untuk itu diperlukan komitmen dari seluruh pegawai untuk memberikan pelayanan lebih baik kepada stakeholder. (eko/admin3)

Kepala KPKNL Jember, Rahmat Effendi juga ikut mendonorkan darahnya Beberapa staf KPKNL Jember sedang mendonorkan darahnya.
Pegawai KPKNL Jember berfoto bersama usai penyerahan piala lomba olah raga. Tim futsal KPKNL Jember (kostum hitam orange) berfoto bersama dengan tim futsal KPPN Jember sebelum melakukan pertandingan.

Jember, 30 Oktober 2010

Oleh : M. Eko Agus Y. – KPKNL Jember

sumber : www.djkn.depkeu.go.id

Iklan

Tinggalkan komentar

UNTUK ADIK KELASKU, GAYUS


UNTUK ADIK KELASKU, GAYUS

Oleh HERI PRABOWO

(Alumnus STAN 1996, penulis buku Catatan Harian Seorang Mafia Pajak)

 

Ada anekdot yang beredar saat reuni akbar Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN-Prodip) pada Oktober 2010. Yakni, anekdot tentang pemberian award untuk sejumlah alumnus dengan berbagai kategori. Kategori tersukses jatuh kepada Hadi Purnomo, Ketua BPK (Badan Pemeriksa Keuangan). Kategori karir tercepat diperuntukkan Haryono Umar, wakil ketua KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi). Kategori terkontroversial jatuh kepada M. Misbakhun, anggota DPR, inisiator hak angket Bank Century yang akhirnya jadi tersangka kasus yang sama. Sedangkan kategori terpopuler dipegang Gayus Tambunan. Dia menyingkarkan Helmi Yahya yang jadi selebriti top. Gayus bahkan lebih populer daripada bosnya, M. Tjiptardjo, Dirjen Pajak yang juga alumnus STAN.

Memiliki sejumlah kesamaan dengan tokoh populer ternyata cukup menggelitik hati saya. Ada beberapa kesamaan saya dengan Gayus. Sama-sama alumnus STAN-Prodip yang lantas terjerembap mafia pajak dan berujung menghadapi proses hukum. Di usia yang sama, 30 tahun. Usia yang seharusnya kita mulai untuk manapak puncak karir, tapi justru kami terperosok dalam.

Saya tidak seberuntung Gayus, yang masih kaya walau hartanya Rp 100 miliar disita. Tapi Gayus juga tidak seberuntung saya. Dia bersusah payah merintis karir di luar Jawa, sedangkan saya sejak awal ditempatkan di kota besar (Surabaya).

Muda, berduit dan berkuasa. Itulah gambaran untuk kami, para mafia pajak. Meski hanya pegawai rendahan, toh kami berperan besar atas urusan pajak sejumlah perusahaan. Sebab, kami punya lobi. Bisa dibayangkan betapa kami sering memandang kecil sebuah masalah. Sembrono dan ugal-ugalan. Bahkan saat kami telah ditahan, saya ikut mencicipi fasilitas lebih di tahanan. Walau tidak seekslusif Tante Ayin (Artalyta Suryani) dan kawan kawan, fasilitas itu juga dinikmati pejabat tinggi, politisi, dan orang-orang kaya yang ditahan disana. Saya berbangga. Saya bisa selevel dengan mereka. Kebanggan yang semu di tengah hujan cercaan.

Tidak heran Gayus dengan enteng keluar masuk rutan. Toh, tahanan lain yang jabatannya jauh di atasnya melakukan hal serupa. Saya yakin bahwa Gayus pun bangga melakukannya. Padahal, dia bukan mereka. Uang boleh sama, tapi mereka cerdik, berpengalaman dan punya network luas. Gayus boleh bernyanyi, tapi mereka sekejap tiarap, lalu tertawa lagi.

Dengan latar belakang kurang beruntung secara ekonomi dan broken home, Gayus telah berjuang untuk menjadi bernilai lebih. Tidak mudah bisa duduk jadi mahasiswa STAN. Tidak mudah juga bisa lulus. Sebab, berlaku sistem DO (dropout) yang ketat.

Kampus dipenuhi mahasiswa dari golongan menengah ke bawah. Kebanyakan di antara mereka berasal dari desa-desa. Kesederhanaan selalu tampak. Jangan heran jika ada seorang asisten dosen berangkat ke kampus dengan naik sepeda mini yang juga cocok untuk anaknya. Kampus juga menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran dan religiusitas. Masjid-masjid tidak hanya dipenuhi mahasiswa sejak azan Subuh berkumandang. Tempat itu juga dimakmurkan oleh berbagai kegiatan agama. Mulai mengajar TPA (taman pendidikan Alquran) hingga diskusi keagamaan, semuanya dimotori mahasiswa STAN. Lalu kenapa saya dan Gayus bisa lahir? Lalu, mengapa kami bisa jadi pecinta kemewahan?

Pengaruh dimulai saat bertemu dengan para senior yang telah bekerja. Bertemu dengan rekan kerja dan atasan saat bekerja. Dengan gambling, mereka gambarkan tempat basah dan tempat kering. Dengan nyata, mereka jadi orang kaya baru. Semua terjadi begitu terbuka dan aman-aman saja. Hanya segelintir yang bisa bertahan dengan idealisme masing-masing. Sisanya lagi “miskin” karena tidak memeperoleh kesempatan.

Saat lulus STAN pada 2000, Gayus berjibaku di lahan kering Kalimantan. Setiap mudik ke Jakarta, dia dan rekan-rekan lain ngiler kala melihat teman-teman seangkatannya begitu makmur. Membeli mobil seperti membeli gorengan. Jakarta adalah surga para mafia pajak. Perusahaan besar walau berkantor di daerah harus melaporkan pajak ke Jakarta. Besarnya putaran uang berbanding lurus dengan gemuknya gurita korupsi.

Maka, saat bertugas di Jakarta, Gayus tidak menyia-nyiakan kesempatan. Gayus hanya mencontoh apa yang dilihat sehari-hari di kantornya. Dia “beruntung”. Puluhan miliar rupiah dia kumpulkan dalam sekejap. Keserakahan yang ada dalam diri manusia pada umumnya, tapi tidak manusiawi.

Gayus pasti juga mendengar gosip yang pernah saya dengar. Yakni, sejumlah pejabat pajak pernah diperiksa karena menerima aliran dana tidak wajar di rekening dan umumnya mereka aman-aman saja. Maka, wajar Gayus percaya diri. Tapi, takdir bicara lain. Dia diadili lagi dengan tumpukan dakwaan, Seakan hanya dialah mafia pajak di negeri ini.

Pada masa genderang perang melawan korupsi ditabuh siapa pun, termasuk para mafia hukum dan koruptor, wajar tekanan media menghantam. Wajar olok-olok sarkastis menghajar bukan hanya kami, tapi juga keluarga. Bahkan, anak-anak yang masih suci. Stres sehingga berujung linangan air mata.

Kejengkelan muncul saat para bos, mafia-mafia besar justru nyaris tidak tersentuh hukum. Gayus lantas bermanuver, “bernyanyi”. Banyak pihak ikut menabuh gendang untuk menggiringnya. Banyak pihak ikut bising mendengarnya.

Saat “nyanyian” tidak lagi merdu, Gayus bagai pion yang digerakkan untuk menjepit raja para lawan. Gerakan pion hanyalah bagian kecil dari manuver untuk langkah utama, skakmat! Orang tidak peduli jika pion akhirnya tersungkur dari papan catur.

Gayus, adik kelasku! Hadapilah sidang dengan hati baja. Ketakutan adalah hal wajar. Maka, berjalanlah hingga ujung papan catur. Ubah dirimu. Berhentilah jadi pion. Walaupun, tidak mungkin jadi raja. Bahkan, keadilan mungkin tidak berpihak kepadamu. Mungkin para raja, menteri dan lainnya melenggang dengan tidak tersentuh hukum. Biarlah Tuhan yang menghukum mereka. Kelak ada hikmah dari semua masalah itu.

Apa yang terjadi kepadamu bukanlah cobaan Tuhan. Sebab, itu berawal dari kesalahan kita. Meskipun kini engkau merasa menjadi kambing hitam.

Jika saya boleh memberikan nasihat, ceritakanlah kepada dunia setelanjang mungkin. Mengapa terjerembap dalam mafia pajak. Bagaimana caranya, metodenya, siapa saja teman-temannya. Dengan demikian, hal tersebut jadi bahan pembelajaran bagi aparat hukum, adik-adik kelas kita sealmamater, serta pegawai-pegawai pajak yang baru berkarir. Adakalnya kita terpeleset karena kebegoan kita. Tapi, juga selalu ada kesempatan untuk kembali bangkit.

 

Dicuplik dari Harian Jawa Pos, tgl. 21 Nopember 2010

Tinggalkan komentar

Puluhan Guru Menangis di Banyumas


Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

BANYUMAS– Para guru terus menangis di depan pintu gerbang Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah saat melakukan aksi unjuk rasa.

Mereka yang tergabung dalam forum guru honorer Banyumas ini tak kuasa menahan haru, sekaligus kekecewaannya. Pasalnya, para guru honorer yang sudah mengabdi lima hingga 10 tahun sebagai guru honorer, tidak kunjung diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS).

Mereka sendiri sebelumnya diberi janji oleh Bupati Banyumas untuk diangkat menjadi PNS. Namun, justru pada tahun 2009, mereka diberitahu jika sudah tidak mungkin lagi diangkat menjadi PNS. Padahal, para guru honorer tersebut sudah melengkapi berkas PNS sesuai permintaan Pemerintah Kabupaten Banyumas.

Ratusan guru honorer ini menuntut perbaikan kesejahteraan mereka termasuk diangkat menjadi PNS. Apalagi dengan honor yang hanya Rp300 ribu, para guru honorer justru sering diberi beban pekerjaan tambahan dari guru PNS.

“Gaji kami yang sedikit ini justru sering diberi beban oleh guru-guru yang sudah menjadi PNS. Pekerjaan kami yang sama dengan mereka (PNS), bahkan terkadang lebih berat, tapi mengapa gaji kami sangat jauh dengan mereka. Kami minta keadilan dengan diangkat menjadi PNS seperti janji bupati,” pinta Suyanti, salah seorang guru honorer sambil menangis, Sabtu (20/11/2010).

Demo yang sedianya ingin bertemu dengan Bupati Banyumas, Marjoko ini justru akhirnya tidak bisa terealisasi. Para pendemo akhirnya meminta untuk dipertemukan dengan anggota DPRD Banyumas.

Di depan anggota dewan, para guru ini mengadukan nasibnya sambil menitikkan air mata. Mereka meminta agar anggota dewan memperhatikan nasib para guru honorer ini.

Tinggalkan komentar

Emas Ketiga Perahu Naga


Naga Emas

GUANGZHOU – Cabor Perahu Naga jadi primadona Indonesia dalam urusan mendulang emas dalam perhelatan Asian Games ke-16 di Guangzhou, China. Ini dibuktikan dengan raihan medali emas ketiga yang kembali disumbangkan kontingen Dragon Boat untuk Merah Putih.

Setelah sebelumnya berhasil menyabet emas di nomor 1000 dan 500 meter, kali ini emas ketiga kembali disumbangkan tim putra yang turun di nomor 250 m. Bertanding di Zengcheng Dragon Boat Lake, Sabtu (20/11/2010), tim putra Merah-Putih kembali menjadi yang terbaik dengan mencatatkan waktu tercepat 48.681 detik.

Indonesia berhasil mengungguli Myanmar yang harus puas dengan medali perak usai mencatatkan waktu 49,401 detik. Tuan rumah China, harus puas menempati podium ketiga (perunggu) karena hanya mampu mencatatkan waktu 49,467 detik.

Tambahan emas ini praktis mendongkrak posisi Indonesia di daftar perolehan sementara medali. Jika sebelumnya Indonesia menempati posisi ke-12, maka kini, dengan torehan tiga emas, lima perak dan 10 perunggu, tim Merah Putih berhasil naik dua peringkat ke posisi 10 atau unggul satu tingkat di atas negeri tetangga Malaysia di urutan 11.

Tinggalkan komentar

Mendandani Bayi, Jangan Asal Terlihat Lucu


Kelihatannya lucu, tetapi si kecil juga terlihat tak nyaman kan, mengenakan setelan seperti ini

Orang tua mana yang tak ingin melihat bayinya tampil menarik? Tetapi jangan asal keren lantas Anda melupakan faktor kemanan dan kenyamanan saat mendandani si kecil.

“Enak, ya, punya anak perempuan, bisa didandani macem-macem.” Begitu, kan, komentar yang sering dilontarkan para ibu kepada ibu lain yang punya anak perempuan. Kita sendiri pun akan berpendapat demikian. Bukankah para ibu yang lebih suka berdandan? Apalagi, model busana anak perempuan pun beraneka ragam, tak seperti model busana anak lelaki. Belum lagi aksesorinya.

Padahal, yang namanya bayi, biar enggak didandani juga akan tetap menarik perhatian orang yang melihatnya. Baik bayi perempuan maupun bayi lelaki, mempunyai daya tarik tersendiri dibanding anak usia selanjutnya. Tentu boleh-boleh saja bila Anda ingin mendandani bayi Anda. Namun jangan sampai Anda melupakan faktor keamanan dan kenyamanannya.

Aman
Busana yang aman tentulah yang tak membahayakan bayi. Dalam kaitan ini, yang pertama harus Anda perhatikan adalah bahan busana. “Bahan yang mudah terbakar seperti nilon, sebaiknya dihindari,” anjur dr Rini Sekartini, SpAK.

Yang kedua, aksesori. “Biasanya, busana untuk bayi perempuan banyak aksesorinya,” lanjut dokter spesialis anak pada Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSUPN Cipto Mangunkusumo ini. Misalnya, dihiasi dengan pernik-pernik kecil. Hati-hati, lo, aksesori tersebut bisa tertelan oleh si kecil.

Terakhir, warnanya jangan luntur. Jangan lupa, bayi pada umumnya sangat aktif bergerak ke sana ke mari sehingga sering berkeringat. “Nah, jika warna busananya luntur, bisa-bisa menempel di tubuh si bayi.” Dampaknya akan lebih buruk lagi bila terkena pada bayi yang alergi karena akan timbul reaksinya. “Mungkin yang paling aman adalah gambar pada busana daripada warna busananya.”

Nyaman
Faktor kenyamanan pada busana dilihat dari sirkulasi udaranya yang baik. “Bagian ketiak sebaiknya jangan terlalu ketat dan jangan pula terlalu longgar agar bayi jadi tak sering berkeringat,” tutur Rini. Dari segi model pilihlah yang membuat bayi bisa leluasa bergerak. Jadi, bukan lantaran modis-tidaknya busana tersebut. Misalnya, rok span, “Hanya enak untuk dilihat namun akan menghambat gerak bayi.”

Ingat, pada masa bayi yang utama adalah perkembangan motoriknya. Jadi, kalau busananya menghambat, tentu juga akan mempengaruhi geraknya, yang berarti pula menghambat perkembangan motoriknya. Celana merupakan alternatif pilihan busana yang tepat karena tak menghambat gerak. Namun jangan lupa perhatikan karet celananya, Bu. “Bila karet celananya keras, bisa berbekas di tubuh bayi sehingga dapat meninggalkan tanda hitam. Terlebih lagi jika bayinya gendut.”

Yang tak kalah penting, bahan busananya. Beberapa bayi, terang Rini, sensitif terhadap suatu bahan, biasanya bahan berbulu. Apalagi pada bayi yang di dalam keluarganya ada riwayat alergi. Nah, bahan busana yang paling aman adalah katun. Jikapun tak ada katun, bisa menggunakan bahan kaos yang menyerap keringat. “Jangan pilih bahan kaos yang licin karena terlalu banyak bahan sintetisnya sehingga tak dapat menyerap keringat dengan baik,” sarannya.

Kancing depan
Untuk bayi baru lahir, tutur Rini, baju yang memiliki kancing di muka sangat praktis. “Ini berkaitan dengan kepala bayi yang masih lemah.” Lain hal setelah bayi usia 3 bulan ke atas, bisa dipakaikan baju model kaos karena kepalanya sudah semakin kuat, sehingga baju bisa melalui kepala.

Baju kodok bisa menjadi pilihan karena praktis. Hanya dengan mengenakan satu baju, bayi dapat langsung memakai celana. Tetapi jangan lupa, ingat Rini, pilih yang bukaan di depan. “Jadi, mengenakannya seperti mengenakan baju biasa ke bayi. Karena kalau pemakaiannya lama, bayi juga akan gelisah duluan sehingga menangis.” Anda pun tentunya juga jadi senewen karena bajunya enggak masuk-masuk.

Mudah diganti
Bila Anda ingin mengajak si kecil bepergian, saran Rini, sebaiknya pilih busana yang mudah diganti. Soalnya, saat bepergian kemungkinan terjadi bayi buang air kecil atau besar, dan bahkan muntah. “Jadi, bila model busananya rumit, menggantinya pun akan susah.”

Faktor usia saat bayi diajak bepergian pun tak boleh dilupakan. Ketika usia bayi baru 2 minggu, misalnya, biasanya bayi baru bepergian ke dokter untuk kontrol. Nah, agar nyaman, pakaikan popok atau bila pusarnya sudah puput bisa dipakaikan celana. Model baju yang memiliki kancing di muka akan memudahkan pemeriksaan. Setelah baju, biasanya bayi akan dilapisi dengan bedong, baru dimasukkan ke dalam selimut besar.

“Selimut yang memiliki topi untuk menutupi kepala bayi bisa juga menjadi pertimbangan karena sekaligus bisa melindungi kepala bayi,” kata Rini. Bayi yang sudah lebih besar biasanya akan mulai diajak bepergian ke berbagai macam tempat. Nah, sesuaikan busana bayi dengan kondisi tempat tujuan.

“Bila ingin diajak ke tempat dingin, baju yang dianjurkan tentunya yang dapat mencegah bayi kedinginan. Misalnya, busana lengan panjang dan celana panjang.” Baju hangat juga bisa digunakan; pilih yang terbuat dari rajutan benang untuk mencegah alergi. Bila bepergian ke tempat berudara panas, misalnya, pantai, Rini menganjurkan agar bayi dipakaikan setelan celana pendek dan kaos.

nyaman tanpa lengan

“Kalau mau menggunakan busana tanpa lengan, kita lihat dulu kondisi bayi, apakah dia sering batuk pilek atau tidak,” katanya.

Jadi, bila si kecil kondisinya kurang bagus, sebaiknya hindari busana yang terlalu terbuka. “Pakaikan baju yang tertutup namun berbahan tipis karena dia tak tahan dingin dan tak tahan angin. Apalagi di pantai, kan, banyak angin.” Sementara baju model tanpa lengan bisa dipakai untuk jalan-jalan ke mal.

Tinggalkan komentar

DJKN Serahkan Aset Senilai Rp151,5 Miliar Kepada PT Brantas Abipraya


Jakarta, 11 November 2010

Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) serahkan Barang Milik Negara (BMN) berupa tanah seluas 24.464 m2 dengan nilai Rp151,5 miliar kepada PT Brantas Abipraya (Persero) dalam rangka Penyertaan Modal Pemerintah Pusat (PMPP). BMN yang sebelumnya digunakan oleh Direktorat Jendral Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum (PU) ini terletak di Jl. Yos Sudarso Jakarta Utara. Penyerahan BMN dari Kementerian PU kepada Kementerian Keuangan (Kemenkeu), dalam hal ini kepada DJKN, ditandai dengan penandatanganan Berita Acara Serah Terima (BAST) oleh Direktur Jenderal Kekayaan Negara (Dirjen KN), Hadiyanto dan Sekretaris Jenderal Kementerian PU, Agus Widjanarko. Setelah BMN tersebut diserahkan kepada DJKN, selanjutnya dilakukan penyerahan BMN dari DJKN kepada PT Brantas Abipraya yang ditandai dengan penandatanganan BAST oleh Dirjen KN dan Direktur Utama (Dirut) PT Brantas Abipraya, Suyono Sontosumarto.

Penandatanganan BAST oleh Bapak Hadiyanto, Dirjen KN.

Acara serah terima dan penandatanganan BAST ini dilaksanakan pada hari Kamis, 11 November 2010 di Ruang Rapat DJKN, Lantai 10 Gedung Sjafruddin Prawiranegara, Jl. Lapangan Banteng Timur No. 2-4 Jakarta. Selain dihadiri oleh ketiga pejabat di atas, acara ini juga dihadiri oleh Direktur Barang Milik Negara I (BMN I), Pardiman,  Asisten Deputi (Asdep) Bidang Usaha Infrastruktur dan Logistik Kementerian BUMN, Wiranto, serta jajaran dari DJKN, Kementerian BUMN, Kementerian PU, dan jajaran PT Brantas Abipraya.

Laporan dari Direktur BMN I, Bapak Pardiman

Direktur BMN I dalam laporannya menyampaikan bahwa proses PMPP ini sebenarnya sudah dimulai sejak Desember 2007. Ini ditandai dengan dengan adanya surat Menteri PU tentang permohonan persetujuan PMPP. Surat tersebut antara lain menyebutkan bahwa BMN yang akan dijadikan PMPP tersebut adalah BMN idle dan lokasi BMN tidak sesuai dengan Rencana Umum Tata Ruang (RUTR) Pemda DKI Jakarta. Selain itu, disebutkan pula bahwa posisi modal PT Brantas Abipraya per 31 Desember 2008 adalah negatif sedangkan PT Brantas Abipraya yang dibentuk oleh Kementerian PU eksistensinya sangat diperlukan untuk mendukung tugas pokok dan fungsi Kementerian PU khususnya di bidang bangunan air. Hal-hal inilah yang menjadi pertimbangan usulan dilakukannya PMPP tersebut.

Proses PMPP ini ternyata memakan waktu yang cukup lama. “Proses ini sepertinya agak lama, hal ini disebabkan karena data dukung dan kajian studi kelayakan baru bisa dipenuhi oleh Kementerian PU pada Oktober 2009,” kata Direktur BMN I. Kajian studi yang melibatkan pihak-pihak fungsional terkait menyebutkan bahwa BMN yang akan dijadikan PMPP adalah BMN idle, PMPP BMN tersebut tidak memerlukan izin DPR, serta adanya dukungan dari Meneg BUMN atas PMPP berupa tanah tersebut. Secara ekonomis, kinerja PT Brantas Abipraya cukup bagus karena perusahaan mampu menghasilkan laba walaupun dalam posisi equitas negatif. “Tim Kementerian Keuangan berkesimpulan bahwa PT Brantas Abipraya (Persero) layak untuk diberikan PMPP,” ujar Direktur BMN I.

Usai laporan dari Direktur BMN I acara dilanjutkan dengan penandatanganan BAST oleh Dirjen KN, Sesjen Kementerian PU, dan Dirut PT Brantas Abipraya.  “Daripada BMN tersebut idle, memang lebih baik di PMPP-kan saja,” kata Dirjen KN usai menandatangai BAST. Pengelolaan BMN harus meliputi 3T yaitu Tertib Fisik, Tertib Hukum, dan Tertib Administrasi. “Pengelolaan BMN ini tidaklah mudah,” lanjut Dirjen KN. Selain itu, Dirjen KN menyampaikan bahwa acara ini menunjukkan adanya sinergi antara Kementerian PU, DJKN, dan BUMN. Hal ini juga menunjukkan bahwa Kementerian PU sudah melangkah pada pengelolaan aset yang lebih baik.

PT Brantas Abipraya bersama PT Amarta Karya, dan PT Istaka merupakan 3 BUMN yang dulunya direncanakan akan dilikuidasi. Akan tetapi rencana ini tidak dilakukan karena ada opsi lain yaitu melakukan pembinaan. PT Pembangunan Perumahan ditugaskan untuk membina 3 BUMN ini. Belum sampai tiga tahun, PT Brantas Abipraya telah menunjukkan perkembangan yang bagus. Saat ini, PMPP ini telah membuat equitas PT Brantas Abipraya menjadi positif.  Demikian disampaikan oleh Sesjen Kementerian PU saat memberikan sambutan. “Manajemen baik komisaris maupun direksi diharapkan bisa betul-betul mengoptimalkan aset yang ada untuk memperkuat bisnisnya,” kata Sesjen Kementerian PU.

Dirut PT Brantas Abipraya sendiri dalam sambutannya menyampaikan bahwa nilai PMPP ini sangat besar dan tentunya sangat bermanfaat bagi perusahaan. PMPP ini membuat ekuitas perusahaan yang sebelumnya negatif menjadi positif. PMPP ini diharapkan dapat membuka peluang bisnis baru dengan mengembangkan lahan tersebut menjadi lahan yang produktif. “Semoga perusahaan menjadi lebih maju dan bisa mencapai cita-cita yang diinginkan yaitu menjadi perusahaan yang terkemuka di bidang industri konstruksi,” harap Dirut PT Brantas Abipraya.

sumber : www.djkn.depkeu.go.id

Tinggalkan komentar

“Gayus” Ngobrol dengan Wanita di Sebelah


Wanita Misterius ???

Salah seorang saksi mata yang melihat langsung pria mirip Gayus Tambunan saat menonton pertandingan tenis Commonwealth Bank Tournament of Champions di Hotel Westin, Nusa Dua, Bali, mengatakan bahwa Gayus kerap melakukan komunikasi dengan wanita berjilbab yang duduk di sebelah kirinya.

“Saya curiga sama ibu-ibu yang di sebelahnya karena dia sering berkomunikasi sama Gayus,” ujar Made Sugiantara, salah seorang penonton yang duduk di tribun sebelah barat. “Saya sebagai penonton tenis tahu bagaimana komunikasi antarpenonton. Jika tidak kenal, tidak ada obrolan yang akrab, bahkan lebih sering tidak saling bicara,” imbuhnya.

“Kalau ibu-ibu itu sepertinya akrab dan sering bisik-bisik,” ucap Sugiantara. Awalnya Sugiantara mengetahui keberadaan Gayus dari petugas tiket yang kebetulan kenal dengannya. “Saya dikasih info sama petugas tiket, si Gayus nonton. Terus, saya cari. Saya lihat-lihat sampai saya tidak hiraukan pertandingannya,” ungkapnya.

Setelah menemukan pria mirip Gayus tersebut, Sugiantara langsung membidikkan kamera kepadanya. Jika sebelumnya tidak begitu jelas, saat melihat dari lensa kamera, maka ia memastikan bahwa pria tersebut benar-benar mirip Gayus. “Dari segi fisik mirip banget dan rambutnya sering dibenerin,” pungkasnya.

 

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: