Arsip untuk April, 2011

Mutasi Eselon III DJKN Mei 2011


in - out

Informasi mutasi Eselon III DJKN Mei 2011

Download SK Mutasi, klik disini

Sumber :  www.djkn.depkeu.go.id

Iklan

18 Komentar

44 Tahun, Jadi Dirjen Bea dan Cukai


Dirjen Bea Cukai

Menteri Keuangan Agus Martowardojo menunjuk Agung Kuswandono sebagai Direktur Jenderal Bea Cukai yang baru, menggantikan Thomas Sugijata yang akan memasuki masa pensiun. Senin (25/4) sore ini rencananya Agus akan melantik Agung.

Usianya masih tergolong muda, 44 tahun. Namun, sederet langkah fenomenal telah dilakukan pria kelahiran Banyuwangi, Jawa Timur ini. Langkahnya tak kenal kompromi, meski harus berhadapan dengan atasan. Wakil Presiden sekalipun.

Pada Maret 2007, saat menjabat Kepala Bea-Cukai  Bandara Soekarno-Hatta publik terhenyak oleh langkah Agung. Ia memerintahkan penyegelan 12 helikopter bekas milik PT Air Transport Services karena perusahaan milik Bukaka ini belum menyertakan sertifikat kelayakan dan izin Bea Cukai. Jusuf Kalla yang saat itu menjabat sebagai Wakil Presiden pun sempat marah.

Tapi, lantaran jaminan kepabeanan Rp 9 miliar tak kunjung cair, heli yang digunakan oleh Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana dan Penanganan Pengungsi itu tetap dibeslah. Berikut profil singkat Agung Kuswandono:

Nama : Agung Kuswandono

Lahir : Banyuwangi, 29 Maret 1967

Karier:

Kepala Bea-Cukai Soekarno-Hatta (Januari-Mei 2007)

Kepala Kantor Pelayanan Utama Bea-Cukai Tanjung Priok (Mei 2007-2008)

Pejabat Direktur Teknis Kepabeanan ( Februari 2008-2010)

Direktur Fasilitas Kepabeanan (Maret 2010-2011)

Pendidikan:

Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (1985-1990)

Universitas Colorado, Amerika Serikat (1995-1997)

Kekayaan tercatat tahun 2007: Rp 896,8 juta juta dan US$ 1.000

Gebrakan Agung:

Maret 2007 : Menyita 12 helikopter milik PT Air Transport Services milik Bukaka-perusahaan kepunyaan Wakil Presiden Jusuf Kalla-di Bandara Soekarno-Hatta.

Akhir Maret 2007 : Membeslah peti kemas berisi 36 ribu pasang sepatu merek Yonex milik PT Nagasakti Paramashoes Industry, kepunyaan Siti Hartati Murdaya, yang keluar dari kawasan berikat tanpa izin.

Pada 10 Agustus 2007: Bersama polisi menyita 8 kapal pengangkut kru pengeboran minyak lepas pantai yang tidak memiliki surat izin impor.

Akhir Oktober 2007: Menggagalkan masuknya 395 ribu tabung gas impor tak berizin dari Cina di Pelabuhan Tanjung Priok.

11 November 2007: Menahan tiga sedan supermewah-Ferrari, Lamborghini, dan Rolls-Royce-berdokumen palsu senilai miliaran rupiah di Pelabuhan Tanjung Priok.

Tinggalkan komentar

KMK 02 Tahun 2011 tentang Penetapan Status Penggunaan BMN Pada Kementerian Kehutanan


sumber : www.kpknljember.djkn.or.id

Sebagai salah satu bentuk dari pelaksanaan tertib pengelolan BMN sebagaimana diamanatkan oleh Peraturan Menteri Keuangan Nomor 96/PMK.06/2007 tentang Tata Cara Pelaksanaan Penggunaan, Pemanfaatan, Penghapusan dan Pemindahtanganan Barang Milik Negara, maka ditetapkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor : 02/KM.6/WKN.10/KNL.04/2011 tentang Penetapan Status Penggunaan Barang Milik Negara Pada Kementerian Kehutanan Yang Digunakan Oleh Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Sampean Bondowoso. KMK Penetapan Status, klik disini

Barang Milik Negara yang ditetapkan statusnya berupa sebidang tanah dengan luas 568 M2 diperoleh pada tgl. 23 Desember 2010 dengan nilai perolehan sebesar Rp 198.800.000,- (seratus sembilan puluh delapan juta delapan ratus ribu rupiah). Satker BP DAS Sampean Bondowoso merencanakan tanah tersebut untuk dibangun rumah negara, pembangunan rumah negara tersebut juga telah tersedia dalam dokumen anggaran (DIPA) T.A. 2011.
Sampai dengan bulan April 2011 ini, realisasi pencapaian target IKU Nilai Kekayaan Negara Yang Diutilisasi (KN.1.1) di KPKNL Jember sebesar Rp 1.509.043.825,- (satu milyar lima ratus sembilan juta empat puluh tiga ribu delapan ratus dua puluh lima rupiah) atau 75% dari target sebesar Rp 2.000.000.000,- (dua milyar rupiah). Diharapkan pada Semester I 2011, target tersebut dapat tercapai, selain itu dari utilisasi BMN tersebut, KPKNL Jember menyumbang Penerimaan Negara Bukan Pajak sebesar Rp 104.925.500,- (seratus empat juta sembilan ratus dua puluh lima ribu lima ratus rupiah) dari pemanfaatan BMN berupa sewa di Polres Situbondo, Polres Bondowoso dan Polres Jember.

1 Komentar

Berita Duka


sumber : www.kpknljember.djkn.or.id
Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un (انّا للہ و انّا الیہ راجعون). Telah meninggal dunia, pada hari Minggu tgl. 17 April 2011 pukul 01.30 WIB, salah satu pegawai KPKNL Surabaya, Bapak Maliaji, S.Sos, NIP 19640425 198503 1 002.

Kami segenap keluarga besar KPKNL Jember turut berduka cita sedalam-dalamnya, semoga amal ibadah semasa hidup, diterima disisiNya, dan keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan dan ketabahan. Aminnnnn…..

Tinggalkan komentar

WISATA MACET, LUMAJANG – SURABAYA


Beberapa waktu yang lalu, saya dan anak-anak berkesempatan ke Surabaya untuk nengok mamanya yang lagi pendidikan di Surabaya. Berangkat jam 1 siang dari Lumajang disertai dengan hujan deras sampai di wonorejo. Setelah melewati wonorejo, jalanan kering tapi sudah mulai padat dengan kendaraan besar (truk/bus), kendaraan pribadi, dan tidak ketinggalan “rayap” jalanan saat ini… yaa… sepeda motor. Kenapa rayap jalanan? Gini… saat ini perbandingan kendaraan roda empat dengan roda dua 1:5 yang ada di jalanan. So… sepeda motor seperti rayap yang berbaris memanjang.

Perjalanan berikutnya sudah mulai diberi pertunjukan wisata macet, daerah antara Klakah – Ranuyoso (Lumajang) jalan sedikit menanjak, truk yang mengangkut “emas hitam”-nya Lumajang, Pasir Gunung Semeru, berjalan melambat… + hanya sekitar 10 km/jam. Belum lagi macet di daerah pasar Ranuyoso, yang sepertinya tidak bisa dihilangkan, karena sudah bertahun-tahun daerah tersebut merupakan daerah macet. Kenapa tidak bisa hilang? Di Ranuyoso terdapat pasar buah (pisang, kelapa, dan buah hasil alam lainnya khas Ranuyoso), di pasar tersebut, penjual dan pembeli lebih “senang” berdagang di jalan, padahal di dalam pasar, kosong melompong. Alhasil, jalan pun macet…cet…cet…

Setelah melewati pasar Ranuyoso, kita memasuki perbatasan Kab. Probolinggo, dari perbatasan sampai dengan jorongan, jalan relatif lancar, karena banyak jalan lurus. Paling sedikit macet di daerah pabrik kertas leces sampai pasar leces. Rute berikutnya jorongan sampai daerah terminal Kota Probolinggo, kendaraan roda empat maksimal 60 km/jam memacu kendaraannya, disamping jalan berkelok, juga jalan agak sempit, ditambah lagi masih adanya kekhawatiran banjir lahar dingin sisa dari erupsi Gunung Bromo beberapa bulan ini. Yaaa….. disepanjang rute jorongan – terminal tersebut terdapat sungai yang hulu-nya ada di Gn. Bromo, bila di atas hujan, maka dipastikan air sungai akan meluber sampai di jalan. Memang pada saat kami berangkat, Probolinggo sepertinya cerah, tapi pada saat kami kembali ke Lumajang beberapa hari kemudian, kekhawatiran itu terbukti. Air sungai meluap sampai ke jalan, untungnya masih bisa dilewati.

Masih berlanjut dengan wisata macet…. (ppppfffffiiiiiuuuhhhh). Berikutnya rute Kota Probolinggo – Kota Pasuruan, merupakan rute terparah dalam perjalanan ini. Bayangkan (coba dibayangkan) sepanjang jalan tersebut, jalannya rusak parah, ada daerah banjir (kalo di Jakarta disebut genangan), plus saling serobot antar pengemudi yang tidak tertib. Titik terparah kemacetan ada di daerah Tongas, Probolinggo dan Ngopak, Pasuruan, panjang antrian di dua lokasi tersebut bisa mencapai 3 kilometer bro… dijamin kaki kram, karena sering injak pedal kopling, gas, rem, kopling, gas, rem……

Cukupkah wisata macetnya??? Woi belum lah… rute berikutnya Kota Pasuruan – Bangil, rute ini biasanya hanya ramai lancar, tidak sampai macet. Rute parah macet berikutnya ada di Gempol – Porong, apalagi dengan diperbaikinya viaduk Gempol, maka kendaraan yang mau ke Surabaya harus memutar terlebih dahulu ke Apollo melewati Japanan. Kesimpulannya…??? Yaaa… sekarang rute Lumajang (dan sekitarnya) ke Surabaya merupakan wisata macet, jarak tempuh Lumajang – Surabaya adalah 180 Km. Dulu sebelum ada masalah lumpur di Porong, Lmj-Sby bisa ditempuh dengan waktu 3 jam. Tapi sekarang? Dengan banyaknya jalan yang rusak dan masalah lumpur, sekarang harus ditempuh dengan waktu + 5 jam.

Sudah saatnya pemerintah, baik pusat maupun daerah segera bertindak mengatasi masalah-masalah transportasi tersebut, pastinya, masalah transportasi tersebut jelas berpengaruh ke ekonomi di daerah sekitar tapal kuda, termasuk harus nambah biaya bulanan pijit (karna kaki kram). Menurut kabar, jalan arteri Porong akan selesai pada bulan September 2011, mudah-mudahan bisa sedikit mengurai kemacetan yang terjadi setiap hari di Porong. Untuk rute Probolinggo – Pasuruan, memang sepertinya sudah ada tindakan perbaikan, sudah mulai ada mobilisasi kendaraan berat untuk perbaikan jalan, dipastikan sampai akhir tahun, rute Lumajang – Surabaya masih diwarnai dengan wisata macet. Mudah-mudahan masalah ini segera teratasi. Amin.

 

 

5 Komentar

%d blogger menyukai ini: