Cloud Computing Gusur Eksternal HD?


eksternal HD

Siapa yang butuh eksternal eksternal hard disk jika nanti cloud computing benar-benar booming di antara pengguna desktop? Begitulah pertanyaan besar sekaligus tantangan bagi perusahaan penyedia media penyimpanan seperti Western Digital (WD).

Albert Chang, Media Bussiness Development Manager Asia Pacifik Western Digital, mengatakan kebutuhan ekstrenal hard disk masih pasti akan dibutuhkan di antara pengguna komputer, kendati cloud computing nantinya akan menjadi tren di masa depan.

“Cloud computing itu sebuah kemajuan inovasi yang bagus. Seperti Facebook, Anda dapat menyimpan foto dan video di sana, lalu membukanya dimana pun. Namun bagaimana pun, eksternal hard disk tetap akan dibutuhkan,” terangnya, di sela-sela peluncuran produk WD yang terbaru, di Hotel Grand Hyatt, Jakarta, Rabu (22/12/2010).

Chang mengatakan, cloud computing di satu sisi mampu menyimpan tanpa memerlukan alat berbentuk fisik, namun cloud computing, seperti Facebook mempunyai akses yang dapat dilihat oleh siapa pun, setidaknya oleh anggota teman di jejaring sosial tersebut.

“Eksternal hard disklah yang akan melengkapi itu, foto, video atau apapun yang tidak ingin Anda share secara luas dapat disimpan melalui hard disk ini,” tambahnya.

Selain itu Chang juga menyebutkan cloud computing mempunyai keterbatasan dalam menyimpan file dokumen yang diinginkan. Nah hal tersebut dapat dilakukan oleh media penyimpanan seperti WD, apalagi kapasitasnya makin hari makin besar.

Lalu siapakah yang masih akan menggunakan eksternal hard disk?

“Semua orang masih akan membutuhkannya. Baik itu personal maupun korporat, karena pada dasarnya mem-back up data itu merupakan sesuatu yang penting,” tandasnya.

Nilai Kelas Jabatan Untuk Remunerasi Polri


Kepolisian telah menerima salinan Peraturan Presiden Nomor 73 Tahun 2010 tentang Tunjangan Kinerja Pegawai di Lingkungan Kepolisian. Peraturan itu dikeluarkan pada Rabu (15/12/2010).

Kepala Bagian Penerangan Umum Polri Kombes Boy Rafli Amar, di Mabes Polri, Jumat (17/12/2010), mengatakan, dalam Perpres, tunjangan kinerja atau remunerasi yang diterima Polri dibagi dalam 18 kelas. Berikut nilai remunerasi dalam setiap kelas:

– Kelas Jabatan 18 : Rp 21.305.000

– Kelas Jabatan 17 : Rp 16.212.000

– Kelas Jabatan 16 : Rp 11.790.000

– Kelas Jabatan 15 : Rp 8.575.000

– Kelas Jabatan 14 : Rp 6.236.000

– Kelas Jabatan 13 : Rp 4.797.000

– Kelas Jabatan 12 : Rp 3.690.000

– Kelas Jabatan 11 : Rp 2.839.000

– Kelas Jabatan 10 : Rp 2.271.000

– Kelas Jabatan 9 : Rp 1.817.000

– Kelas Jabatan 8 : Rp 1.453.000

– Kelas Jabatan 7 : Rp 1.211.000

– Kelas Jabatan 6 : Rp 1.010.000

– Kelas Jabatan 5 : Rp 841.000

– Kelas Jabatan 4 : Rp 731.000

– Kelas Jabatan 3 : Rp 636.000

– Kelas Jabatan 2 : Rp 553.000

– Kelas Jabatan 1 : nihil

Boy menjelaskan, penentuan posisi kelas tergantung kepangkatan setiap anggota. Namun, belum ditentukan kepangkatan mana saja dalam setiap kelas.

“Nanti tentu akan ada penjelasan lebih jauh kelas jabatan 18 kepangkatan apa, kelas jabatan 17 apa. Sementara belum dapat kita sampaikan karena nanti akan ada pengaturan lebih lanjut secara internal,” kata Boy, mantan Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya.

Gonzales: Semoga Fagundez Bisa Jadi WNI


Gol Gonzales vs Philipina

Di mata Cristian Gonzales, sosok Ronald Fagundez adalah sahabat sejati dan bahkan dibilang sebagai “istri kedua”. Satu harapan El Loco adalah Fagundez bisa menjadi WNI dan membela timnas Indonesia bersama dirinya.

Sama-sama berasal dari Uruguay dan lahir di kota yang sama yaitu Montevideo, baik Gonzales maupun Fagundez memilih PSM Makassar sebagai pelabuhan pertamanya di Indonesia. Gonzales bergabung tahun 2003 sementara Fagundez setahun setelahnya.

Kebersamaan yang telah dibangun membuat keduanya tak bisa terpisahkan dan memutuskan pindah ke Persik Kediri pada musim 2005. Di sana keduanya mencapai puncak karirnya saat membawa ‘Macan Putih’ juara ISL musim 2006.

Boleh dibilang Fagundez adalah pasangan sejati alias soulmate Gonzales baik di dalam dan luar lapangan. Fagundez (31 tahun) yang lebih muda tiga tahun dari Gonzales, tahu bagaimana “melayani” kompatriotnya saat berlaga. Tak heran jika gelar topskorer ISL selalu jadi milik Gonzales selama empat musim beruntun, 2006 hingga 2009.

Gonzales dan Fagundez akhirnya berpisah di pertengahan musim 2009 saat Persik mengalami krisis finansial. Gonzales hijrah ke Persib Bandung dan Fagundez memutuskan menetap di Persik sebelum berganti kostum Persisam Putra Samarinda musim lalu.

Perpisahan inilah yang kemudian dinilai istri Gonzales, Eva Nurida Siregar, sebagai penyebab tak stabilnya performa sang suami dalam dua musim terakhir. Gonzales seperti kehilangan teman sejatinya di lapangan hijau.

“Bisa dibilang mereka soulmate (pasangan sejati). Gonzales sosok yang bandelnya sedangkan Fagundez kebalikannya. Tapi kalau sudah bertemu, mereka seperti anak kecil,” tutur Eva waktu itu.

Kini harapan Gonzales bersanding kembali dengan Fagundez sepertinya akan terbuka, sebab Gonzales mengaku jika rekannya itu kepincut untuk mengikuti jejak Gonzales menjadi warga negara Indonesia melalui naturalisasi. Hal yang kini memang tengah digalakkan betul oleh PSSI dan Badan Tim Nasional (BTN).

“Tentu saja gol ini juga saya persembahkan untuk Ronald Fagundez, sahabat saya,” sahut Gonzales usai mencetak gol kemenangan Indonesia 1-0 atas Filipina di Leg I Semifinal Piala AFF 2010, Kamis (16/12/2010) malam WIB.

“Bukan hanya saya yang ingin menjadi WNI (Warga Negara Indonesia), Fagundez pun sangat berharap bisa dinaturalisasi dan bisa memperkuat timnas nantinya,” sambungnya.

Namun demikian Gonzales belum bisa bersenang hati karena bukan ia memang penentu keputusan naturalisasi Fagundez. Tapi dengan kemampuan Fagundez yang handal sebagai pengatur permainan, bukan tak mungkin melihat kombinasi maut keduanya lagi.

“Tapi saya tidak tahu apakah Fagundez termasuk pemain yang juga akan dinaturalisasi. Semoga saja nasibnya sama dengan saya. Bisa membela negara yang kami banggakan ini,” pinta ayah empat anak itu.

Bagaimana komentar kawan-kawan pengamat bola Indonesia…???

Garuda di Dada Itu Kebanggaan, Jangan Dilucuti


Jersey Timnas

Muncul gugatan terkait penggunaan lambang negara Garuda Pancasila di jersey timnas Indonesia. Sekjen PSSI, Nugraha Besoes menolak mengomentari hal itu dan berkelakar soal penempatannya.

Kemarin munculgugatan terhadap penggunaan lambang Garuda Pancasila di jerseytimnas Indonesia. David Tobing, yang melakukan gugatan, menyebut kalau secara kelaziman internasional yang dicantumkan di baju tim sepakbola adalah logo sponsor, merek kaos dan logo organisasi sepakbolanya.

Ditemui wartawan saat akan masuk Kantor PSSI, Sekretaris Jenderal PSSI Nugraha Besoes, menyebut kalau tuntutan itu tak perlu dikomentari.

“Ah itu tidak usah dikomentari. Sekarang anak-anak lagi perang senjatanya justru dilucuti. Lambang Garuda itu sudah ada sejak tahun 2007. Kenapa baru sekarang dibahas?” seru Nugraha di depan wartawan, Rabu (15/12/2010) siang WIB.

“Ya sekarang biarinlah anak-anak perang dulu, Garuda di dada kiri itukan sebuah kebanggan. Memangnya mau ditaruh di mana lagi (Garudanya)? Memangnya di taruh di bawah?” tuntas Nugraha setengah bercanda.

Mutasi Pelaksana DJKN Desember 2010


Peralatan Yang Mesti Disiapkan Untuk Mutasi

Informasi pemindahan pelaksana DJKN Tahun 2010 sesuai Keputusan Direktur Jenderal Kekayaan Negara Nomor : KEP-23/KN/UP.11/2010 tentang Pemindahan Pegawai Negeri Sipil Di Lingkungan Direktorat Jenderal Kekayaan Negara

Surat Sekretaris Ditjen Kekayaan Negara, klik disini

Sk Mutasi Pelaksana Desember 2010, klik disini

Download alternatif, bila link download di atas lambat. klik disini

SK Penempatan Prodip Tahun 2009 di DJKN, klik disini

KPKNL Jember Berkomitmen Menjadi Lebih Baik


KPKNL Jember bersama instansi vertikal Kementerian Keuangan lainnya di Jember yaitu KPPN Jember dan KPP Pratama Jember melaksanakan serangkaian kegiatan untuk memperingati HUT Ke-64 Keuangan RI. Kegiatan diawali dengan pertandingan persahabatan olah raga pada tanggal 18-27 Oktober 2010 . Pertandingan tersebut meliputi pertandingan futsal, bola voli, tenis lapangan, tenis meja, bulu tangkis, catur, dan gaple.

Puncak kegiatan peringatan hari keuangan dilaksanakan pada tanggal 30 Oktober 2010 dengan melaksanakan upacara bendera. Untuk tahun 2010 ini adalah giliran KPPN Jember sebagai tuan rumah pelaksanaan upacara bendera memperingati HUT Ke-64 Keuangan RI.

Setelah upacara bendera, dilaksanakan kegiatan sosial donor darah yang bekerja sama dengan PMI Cabang Jember. Pada kesempatan tersebut, Kepala KPKNL Jember, Rahmat Effendi juga ikut mendonorkan darahnya beserta beberapa staf KPKNL Jember.

Komitmen Menjadi Lebih Baik

Dengan semangat HUT Keuangan RI Ke-64 tersebut, Rahmat Effendi menyampaikan bahwa KPKNL Jember terus berupaya meningkatkan pelayanan kepada stakeholder, baik di bidang pengelolaan kekayaan negara, piutang negara, maupun lelang. KPKNL Jember juga telah dipercaya untuk menjadi KPKNL TELADAN (Tertib, Lancar, dan Amanah) pada tahun 2011, untuk itu diperlukan komitmen dari seluruh pegawai untuk memberikan pelayanan lebih baik kepada stakeholder. (eko/admin3)

Kepala KPKNL Jember, Rahmat Effendi juga ikut mendonorkan darahnya Beberapa staf KPKNL Jember sedang mendonorkan darahnya.
Pegawai KPKNL Jember berfoto bersama usai penyerahan piala lomba olah raga. Tim futsal KPKNL Jember (kostum hitam orange) berfoto bersama dengan tim futsal KPPN Jember sebelum melakukan pertandingan.

Jember, 30 Oktober 2010

Oleh : M. Eko Agus Y. – KPKNL Jember

sumber : www.djkn.depkeu.go.id

UNTUK ADIK KELASKU, GAYUS


UNTUK ADIK KELASKU, GAYUS

Oleh HERI PRABOWO

(Alumnus STAN 1996, penulis buku Catatan Harian Seorang Mafia Pajak)

 

Ada anekdot yang beredar saat reuni akbar Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN-Prodip) pada Oktober 2010. Yakni, anekdot tentang pemberian award untuk sejumlah alumnus dengan berbagai kategori. Kategori tersukses jatuh kepada Hadi Purnomo, Ketua BPK (Badan Pemeriksa Keuangan). Kategori karir tercepat diperuntukkan Haryono Umar, wakil ketua KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi). Kategori terkontroversial jatuh kepada M. Misbakhun, anggota DPR, inisiator hak angket Bank Century yang akhirnya jadi tersangka kasus yang sama. Sedangkan kategori terpopuler dipegang Gayus Tambunan. Dia menyingkarkan Helmi Yahya yang jadi selebriti top. Gayus bahkan lebih populer daripada bosnya, M. Tjiptardjo, Dirjen Pajak yang juga alumnus STAN.

Memiliki sejumlah kesamaan dengan tokoh populer ternyata cukup menggelitik hati saya. Ada beberapa kesamaan saya dengan Gayus. Sama-sama alumnus STAN-Prodip yang lantas terjerembap mafia pajak dan berujung menghadapi proses hukum. Di usia yang sama, 30 tahun. Usia yang seharusnya kita mulai untuk manapak puncak karir, tapi justru kami terperosok dalam.

Saya tidak seberuntung Gayus, yang masih kaya walau hartanya Rp 100 miliar disita. Tapi Gayus juga tidak seberuntung saya. Dia bersusah payah merintis karir di luar Jawa, sedangkan saya sejak awal ditempatkan di kota besar (Surabaya).

Muda, berduit dan berkuasa. Itulah gambaran untuk kami, para mafia pajak. Meski hanya pegawai rendahan, toh kami berperan besar atas urusan pajak sejumlah perusahaan. Sebab, kami punya lobi. Bisa dibayangkan betapa kami sering memandang kecil sebuah masalah. Sembrono dan ugal-ugalan. Bahkan saat kami telah ditahan, saya ikut mencicipi fasilitas lebih di tahanan. Walau tidak seekslusif Tante Ayin (Artalyta Suryani) dan kawan kawan, fasilitas itu juga dinikmati pejabat tinggi, politisi, dan orang-orang kaya yang ditahan disana. Saya berbangga. Saya bisa selevel dengan mereka. Kebanggan yang semu di tengah hujan cercaan.

Tidak heran Gayus dengan enteng keluar masuk rutan. Toh, tahanan lain yang jabatannya jauh di atasnya melakukan hal serupa. Saya yakin bahwa Gayus pun bangga melakukannya. Padahal, dia bukan mereka. Uang boleh sama, tapi mereka cerdik, berpengalaman dan punya network luas. Gayus boleh bernyanyi, tapi mereka sekejap tiarap, lalu tertawa lagi.

Dengan latar belakang kurang beruntung secara ekonomi dan broken home, Gayus telah berjuang untuk menjadi bernilai lebih. Tidak mudah bisa duduk jadi mahasiswa STAN. Tidak mudah juga bisa lulus. Sebab, berlaku sistem DO (dropout) yang ketat.

Kampus dipenuhi mahasiswa dari golongan menengah ke bawah. Kebanyakan di antara mereka berasal dari desa-desa. Kesederhanaan selalu tampak. Jangan heran jika ada seorang asisten dosen berangkat ke kampus dengan naik sepeda mini yang juga cocok untuk anaknya. Kampus juga menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran dan religiusitas. Masjid-masjid tidak hanya dipenuhi mahasiswa sejak azan Subuh berkumandang. Tempat itu juga dimakmurkan oleh berbagai kegiatan agama. Mulai mengajar TPA (taman pendidikan Alquran) hingga diskusi keagamaan, semuanya dimotori mahasiswa STAN. Lalu kenapa saya dan Gayus bisa lahir? Lalu, mengapa kami bisa jadi pecinta kemewahan?

Pengaruh dimulai saat bertemu dengan para senior yang telah bekerja. Bertemu dengan rekan kerja dan atasan saat bekerja. Dengan gambling, mereka gambarkan tempat basah dan tempat kering. Dengan nyata, mereka jadi orang kaya baru. Semua terjadi begitu terbuka dan aman-aman saja. Hanya segelintir yang bisa bertahan dengan idealisme masing-masing. Sisanya lagi “miskin” karena tidak memeperoleh kesempatan.

Saat lulus STAN pada 2000, Gayus berjibaku di lahan kering Kalimantan. Setiap mudik ke Jakarta, dia dan rekan-rekan lain ngiler kala melihat teman-teman seangkatannya begitu makmur. Membeli mobil seperti membeli gorengan. Jakarta adalah surga para mafia pajak. Perusahaan besar walau berkantor di daerah harus melaporkan pajak ke Jakarta. Besarnya putaran uang berbanding lurus dengan gemuknya gurita korupsi.

Maka, saat bertugas di Jakarta, Gayus tidak menyia-nyiakan kesempatan. Gayus hanya mencontoh apa yang dilihat sehari-hari di kantornya. Dia “beruntung”. Puluhan miliar rupiah dia kumpulkan dalam sekejap. Keserakahan yang ada dalam diri manusia pada umumnya, tapi tidak manusiawi.

Gayus pasti juga mendengar gosip yang pernah saya dengar. Yakni, sejumlah pejabat pajak pernah diperiksa karena menerima aliran dana tidak wajar di rekening dan umumnya mereka aman-aman saja. Maka, wajar Gayus percaya diri. Tapi, takdir bicara lain. Dia diadili lagi dengan tumpukan dakwaan, Seakan hanya dialah mafia pajak di negeri ini.

Pada masa genderang perang melawan korupsi ditabuh siapa pun, termasuk para mafia hukum dan koruptor, wajar tekanan media menghantam. Wajar olok-olok sarkastis menghajar bukan hanya kami, tapi juga keluarga. Bahkan, anak-anak yang masih suci. Stres sehingga berujung linangan air mata.

Kejengkelan muncul saat para bos, mafia-mafia besar justru nyaris tidak tersentuh hukum. Gayus lantas bermanuver, “bernyanyi”. Banyak pihak ikut menabuh gendang untuk menggiringnya. Banyak pihak ikut bising mendengarnya.

Saat “nyanyian” tidak lagi merdu, Gayus bagai pion yang digerakkan untuk menjepit raja para lawan. Gerakan pion hanyalah bagian kecil dari manuver untuk langkah utama, skakmat! Orang tidak peduli jika pion akhirnya tersungkur dari papan catur.

Gayus, adik kelasku! Hadapilah sidang dengan hati baja. Ketakutan adalah hal wajar. Maka, berjalanlah hingga ujung papan catur. Ubah dirimu. Berhentilah jadi pion. Walaupun, tidak mungkin jadi raja. Bahkan, keadilan mungkin tidak berpihak kepadamu. Mungkin para raja, menteri dan lainnya melenggang dengan tidak tersentuh hukum. Biarlah Tuhan yang menghukum mereka. Kelak ada hikmah dari semua masalah itu.

Apa yang terjadi kepadamu bukanlah cobaan Tuhan. Sebab, itu berawal dari kesalahan kita. Meskipun kini engkau merasa menjadi kambing hitam.

Jika saya boleh memberikan nasihat, ceritakanlah kepada dunia setelanjang mungkin. Mengapa terjerembap dalam mafia pajak. Bagaimana caranya, metodenya, siapa saja teman-temannya. Dengan demikian, hal tersebut jadi bahan pembelajaran bagi aparat hukum, adik-adik kelas kita sealmamater, serta pegawai-pegawai pajak yang baru berkarir. Adakalnya kita terpeleset karena kebegoan kita. Tapi, juga selalu ada kesempatan untuk kembali bangkit.

 

Dicuplik dari Harian Jawa Pos, tgl. 21 Nopember 2010

Puluhan Guru Menangis di Banyumas


Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

BANYUMAS– Para guru terus menangis di depan pintu gerbang Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah saat melakukan aksi unjuk rasa.

Mereka yang tergabung dalam forum guru honorer Banyumas ini tak kuasa menahan haru, sekaligus kekecewaannya. Pasalnya, para guru honorer yang sudah mengabdi lima hingga 10 tahun sebagai guru honorer, tidak kunjung diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS).

Mereka sendiri sebelumnya diberi janji oleh Bupati Banyumas untuk diangkat menjadi PNS. Namun, justru pada tahun 2009, mereka diberitahu jika sudah tidak mungkin lagi diangkat menjadi PNS. Padahal, para guru honorer tersebut sudah melengkapi berkas PNS sesuai permintaan Pemerintah Kabupaten Banyumas.

Ratusan guru honorer ini menuntut perbaikan kesejahteraan mereka termasuk diangkat menjadi PNS. Apalagi dengan honor yang hanya Rp300 ribu, para guru honorer justru sering diberi beban pekerjaan tambahan dari guru PNS.

“Gaji kami yang sedikit ini justru sering diberi beban oleh guru-guru yang sudah menjadi PNS. Pekerjaan kami yang sama dengan mereka (PNS), bahkan terkadang lebih berat, tapi mengapa gaji kami sangat jauh dengan mereka. Kami minta keadilan dengan diangkat menjadi PNS seperti janji bupati,” pinta Suyanti, salah seorang guru honorer sambil menangis, Sabtu (20/11/2010).

Demo yang sedianya ingin bertemu dengan Bupati Banyumas, Marjoko ini justru akhirnya tidak bisa terealisasi. Para pendemo akhirnya meminta untuk dipertemukan dengan anggota DPRD Banyumas.

Di depan anggota dewan, para guru ini mengadukan nasibnya sambil menitikkan air mata. Mereka meminta agar anggota dewan memperhatikan nasib para guru honorer ini.

Emas Ketiga Perahu Naga


Naga Emas

GUANGZHOU – Cabor Perahu Naga jadi primadona Indonesia dalam urusan mendulang emas dalam perhelatan Asian Games ke-16 di Guangzhou, China. Ini dibuktikan dengan raihan medali emas ketiga yang kembali disumbangkan kontingen Dragon Boat untuk Merah Putih.

Setelah sebelumnya berhasil menyabet emas di nomor 1000 dan 500 meter, kali ini emas ketiga kembali disumbangkan tim putra yang turun di nomor 250 m. Bertanding di Zengcheng Dragon Boat Lake, Sabtu (20/11/2010), tim putra Merah-Putih kembali menjadi yang terbaik dengan mencatatkan waktu tercepat 48.681 detik.

Indonesia berhasil mengungguli Myanmar yang harus puas dengan medali perak usai mencatatkan waktu 49,401 detik. Tuan rumah China, harus puas menempati podium ketiga (perunggu) karena hanya mampu mencatatkan waktu 49,467 detik.

Tambahan emas ini praktis mendongkrak posisi Indonesia di daftar perolehan sementara medali. Jika sebelumnya Indonesia menempati posisi ke-12, maka kini, dengan torehan tiga emas, lima perak dan 10 perunggu, tim Merah Putih berhasil naik dua peringkat ke posisi 10 atau unggul satu tingkat di atas negeri tetangga Malaysia di urutan 11.

Mendandani Bayi, Jangan Asal Terlihat Lucu


Kelihatannya lucu, tetapi si kecil juga terlihat tak nyaman kan, mengenakan setelan seperti ini

Orang tua mana yang tak ingin melihat bayinya tampil menarik? Tetapi jangan asal keren lantas Anda melupakan faktor kemanan dan kenyamanan saat mendandani si kecil.

“Enak, ya, punya anak perempuan, bisa didandani macem-macem.” Begitu, kan, komentar yang sering dilontarkan para ibu kepada ibu lain yang punya anak perempuan. Kita sendiri pun akan berpendapat demikian. Bukankah para ibu yang lebih suka berdandan? Apalagi, model busana anak perempuan pun beraneka ragam, tak seperti model busana anak lelaki. Belum lagi aksesorinya.

Padahal, yang namanya bayi, biar enggak didandani juga akan tetap menarik perhatian orang yang melihatnya. Baik bayi perempuan maupun bayi lelaki, mempunyai daya tarik tersendiri dibanding anak usia selanjutnya. Tentu boleh-boleh saja bila Anda ingin mendandani bayi Anda. Namun jangan sampai Anda melupakan faktor keamanan dan kenyamanannya.

Aman
Busana yang aman tentulah yang tak membahayakan bayi. Dalam kaitan ini, yang pertama harus Anda perhatikan adalah bahan busana. “Bahan yang mudah terbakar seperti nilon, sebaiknya dihindari,” anjur dr Rini Sekartini, SpAK.

Yang kedua, aksesori. “Biasanya, busana untuk bayi perempuan banyak aksesorinya,” lanjut dokter spesialis anak pada Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSUPN Cipto Mangunkusumo ini. Misalnya, dihiasi dengan pernik-pernik kecil. Hati-hati, lo, aksesori tersebut bisa tertelan oleh si kecil.

Terakhir, warnanya jangan luntur. Jangan lupa, bayi pada umumnya sangat aktif bergerak ke sana ke mari sehingga sering berkeringat. “Nah, jika warna busananya luntur, bisa-bisa menempel di tubuh si bayi.” Dampaknya akan lebih buruk lagi bila terkena pada bayi yang alergi karena akan timbul reaksinya. “Mungkin yang paling aman adalah gambar pada busana daripada warna busananya.”

Nyaman
Faktor kenyamanan pada busana dilihat dari sirkulasi udaranya yang baik. “Bagian ketiak sebaiknya jangan terlalu ketat dan jangan pula terlalu longgar agar bayi jadi tak sering berkeringat,” tutur Rini. Dari segi model pilihlah yang membuat bayi bisa leluasa bergerak. Jadi, bukan lantaran modis-tidaknya busana tersebut. Misalnya, rok span, “Hanya enak untuk dilihat namun akan menghambat gerak bayi.”

Ingat, pada masa bayi yang utama adalah perkembangan motoriknya. Jadi, kalau busananya menghambat, tentu juga akan mempengaruhi geraknya, yang berarti pula menghambat perkembangan motoriknya. Celana merupakan alternatif pilihan busana yang tepat karena tak menghambat gerak. Namun jangan lupa perhatikan karet celananya, Bu. “Bila karet celananya keras, bisa berbekas di tubuh bayi sehingga dapat meninggalkan tanda hitam. Terlebih lagi jika bayinya gendut.”

Yang tak kalah penting, bahan busananya. Beberapa bayi, terang Rini, sensitif terhadap suatu bahan, biasanya bahan berbulu. Apalagi pada bayi yang di dalam keluarganya ada riwayat alergi. Nah, bahan busana yang paling aman adalah katun. Jikapun tak ada katun, bisa menggunakan bahan kaos yang menyerap keringat. “Jangan pilih bahan kaos yang licin karena terlalu banyak bahan sintetisnya sehingga tak dapat menyerap keringat dengan baik,” sarannya.

Kancing depan
Untuk bayi baru lahir, tutur Rini, baju yang memiliki kancing di muka sangat praktis. “Ini berkaitan dengan kepala bayi yang masih lemah.” Lain hal setelah bayi usia 3 bulan ke atas, bisa dipakaikan baju model kaos karena kepalanya sudah semakin kuat, sehingga baju bisa melalui kepala.

Baju kodok bisa menjadi pilihan karena praktis. Hanya dengan mengenakan satu baju, bayi dapat langsung memakai celana. Tetapi jangan lupa, ingat Rini, pilih yang bukaan di depan. “Jadi, mengenakannya seperti mengenakan baju biasa ke bayi. Karena kalau pemakaiannya lama, bayi juga akan gelisah duluan sehingga menangis.” Anda pun tentunya juga jadi senewen karena bajunya enggak masuk-masuk.

Mudah diganti
Bila Anda ingin mengajak si kecil bepergian, saran Rini, sebaiknya pilih busana yang mudah diganti. Soalnya, saat bepergian kemungkinan terjadi bayi buang air kecil atau besar, dan bahkan muntah. “Jadi, bila model busananya rumit, menggantinya pun akan susah.”

Faktor usia saat bayi diajak bepergian pun tak boleh dilupakan. Ketika usia bayi baru 2 minggu, misalnya, biasanya bayi baru bepergian ke dokter untuk kontrol. Nah, agar nyaman, pakaikan popok atau bila pusarnya sudah puput bisa dipakaikan celana. Model baju yang memiliki kancing di muka akan memudahkan pemeriksaan. Setelah baju, biasanya bayi akan dilapisi dengan bedong, baru dimasukkan ke dalam selimut besar.

“Selimut yang memiliki topi untuk menutupi kepala bayi bisa juga menjadi pertimbangan karena sekaligus bisa melindungi kepala bayi,” kata Rini. Bayi yang sudah lebih besar biasanya akan mulai diajak bepergian ke berbagai macam tempat. Nah, sesuaikan busana bayi dengan kondisi tempat tujuan.

“Bila ingin diajak ke tempat dingin, baju yang dianjurkan tentunya yang dapat mencegah bayi kedinginan. Misalnya, busana lengan panjang dan celana panjang.” Baju hangat juga bisa digunakan; pilih yang terbuat dari rajutan benang untuk mencegah alergi. Bila bepergian ke tempat berudara panas, misalnya, pantai, Rini menganjurkan agar bayi dipakaikan setelan celana pendek dan kaos.

nyaman tanpa lengan

“Kalau mau menggunakan busana tanpa lengan, kita lihat dulu kondisi bayi, apakah dia sering batuk pilek atau tidak,” katanya.

Jadi, bila si kecil kondisinya kurang bagus, sebaiknya hindari busana yang terlalu terbuka. “Pakaikan baju yang tertutup namun berbahan tipis karena dia tak tahan dingin dan tak tahan angin. Apalagi di pantai, kan, banyak angin.” Sementara baju model tanpa lengan bisa dipakai untuk jalan-jalan ke mal.