Aku Wariskan Perkebunan di Facebook!


Seorang kakek yang sudah mendekati ajal membisikkan sesuatu kepada cucunya.

Kakek: Cu, kakek sudah tidak kuat lagi. Sepertinya malaikat pencabut nyawa sudah datang. Sebelum dia mencabut nyawa ini, Kakek ingin sekali kamu yang merawat perkebunan milik Kakek. Tolonng diteruskan perawatannya…

Cucu: Sudah tidak usah dipikirkan, kek… Pikirkan saja kesehatan kakek. Soal perkebunan biar nanti saja. (Dalam hati si cucu “Asyiikkk, gue dapet warisan!”)

Kakek: Aku serahkan segala isi kebun, ternak, villa, traktor, semuanya untuk kamu. Tolong rawat baik-baik. Jangan lupa setiap hari kamu siram. Dan kalau nemu sapi yang hilang, ambil saja.

Cucu: Baik kek, tenang saja pasti saya urus. Tapi kenapa saya baru tahu kalo kakek punya perkebunan? dimana lokasinya? sertifikatnya mana?

Kakek: Ada cu. Itu di komputer. Buka Facebook saja. Perkebunan kakek ada di FARMVILLE. Nanti kakek beritahu PASSWORD-nya.

Cucu: *Gubraaakkk! Pingsan*

Kisah Tinah 26 Hari di Bangsal Rumah Sakit


Tinah saat dirawat di rumah sakit (Foto:Dede Rohali)

 

Kini sudah tidak bisa bicara. Makan dan minum pun dengan bantuan selang. Terbaring lemas di atas tempat tidur rumah sakit yang hanya berukuran ½ x 2 meter.

Itulah Tinah (65), warga Desa Rawa Rengas, Kosambi Kabupaten Tangerang, pasien gakin yang menggunakan Jamkesmas di RSU Tangerang. Kenyataan ini terlalu cepat karena sebelumnya tidak ada tanda-tanda kalau dirinya bakal terkena stroke.

Penyakit yang menggerogoti tubuhnya kian parah saja. Pembulu darah pecah sehingga untuk makan dan minum sampai buang air harus melalui selang. Beruntung putranya, Hanafi (30), selalu setia berada di samping Tinah. Sementara sang suami, hanya bisa menunggu dalam kecemasan di rumah lantaran usia tua.

Saat ditemui okezone, baru-baru ini, raut muka Hanafi seakan memikul beban sangat berat, terlihat saat mengipasi ibunya dengan kipas bambu. Walau telah dipasang kipas angin, suasana dalam ruangan yang menyediakan delapan tempat tidur dan satu toilet itu, masih terasa sangat panas.

Berusaha menyejukan suasana, Hanafi sesekali tersenyum dan beranjak ke luar ruangan sekadar menghirup udara segar. Namun pandangannya tak pernah enak. Sesekali dilihatnya jenazah tertutup kain hijau didorong seorang suster, dan dibuntuti tangisan anggota keluarga yang ditinggal.

Terkadang, pendengarannya pun menangkap rintihan sakit dari pasien yang berada di samping tempat tidur ibunya. “Sudah 26 hari, malah kayaknya hampir sebulan saya di RSU Tangerang nemenin ibu yang sakit stroke. Ya, mau bagaimana lagi,” ucap Hanafi dengan suara lirih mengawali pembicaraan.

Bangsal rumah sakit seperti ini sudah cukup untuk merawat ibunya. Sebelumnya, dia empat mendapatkan kekecewaan dari pihak rumah sakit. Soalnya harus menunggu 15 jam di ruang IGD lantaran kamar inap telah terisi semua.

Padahal ketika itu kondisi Tinah semakin memburuk. Dokter yang menanganinya menyarankan agar secepatnya dioperasi akibat pembuluh darah di kepala ibunya pecah. Seperti tersambar petir di siang bolong, putusan dokter membuat Hanafi tambah takut dan bingung setengah mati, harus berbuat apa.

Kendati demikan, dia percaya Tuhan pasti punya rencana baik untuknya. Dengan segala risiko saat itu Hanafi menolak rencana operasi karena khawatir kesehatan ibunya justru kian parah.  Setelah dokter menjelasakan lebih lanjut, Hanafi akhirnya menyetujui rencana operasi tersebut. Dalam kekalutan yang mengelayuti pikirannya, Hanafi kembali mendapat konfirmasi dari dokter yang justru makin membuatnya tambah bingung.

Ibunya akan dirujuk ke RSCM. Alasannya, ruang ICU penuh. Mendengar putusan dokter, Hanafi kembali menolak rujukan tersebut. “Bukannya gimana-gimana, saya tidak tahu rumah sakit itu. Saya tidak ngerti kenapa disarankan dioperasi, tapi malah dirujuk ke rumah sakit lain,” cerita pemuda yang buruh tani itu.

Tinah masih tergolek lemas di ruang IGD. Hanafi lagi-lagi dalam kecemasannya harus memutar otak. Tak mau berpangku tangan sementara Tinah dalam kondisi kritis. Lelaki berkulit coklat ini lalu menghampiri pusat informasi untuk menanyakan kamar inap.

Hanya jawaban yang menyesakan diperoleh dari bagian informasi. Kamar untuk pasien pengguna Jamkesmas sudah penuh, demikian konfirmasi yang didapat Hanafi. Hanafi yang masih berharap ada kamar kosong tidak mau begitu saja percaya dengan petugas administrasi bagian informasi.

Dia nekat mengecek langsung semua kamar inap yang ada di rumah sakit itu. “Saya lihat ada tulisan ‘cari kamar 1-3″, jadi saya coba lihat sendiri apa benar kamarnya penuh,” katanya. Sesekali dirinya bertanya kepada sejumlah petugas dan suster. Akhirnya, jawaban menggembirakan itu datang juga.

Seorang suster yang ditemuinya memberitahu masih ada tersisa satu kamar di kelas 1 ruang kenanga. “Di ruang kenanga masih ada satu tempat tidur. Ibu saya bisa diantar ke sana,” ucap Hanapi ketika memberitahukan hal itu ke bagian informasi. Menunggu dan menunggu, itulah yang selalu menghampirinya. Hampir dua jam, hati panas dan
pikiran kalut. Maunya mendapat pelayanan yang baik berkecamuk di otak Hanapi yang mulai dongkol.

Setelah menunggu lama, Tinah dipindah ke kamar inap. “Setelah saya bilang ada kamar kosong, dua jam kemudian ibu saya dipindahkan ke kelas satu dan diberi tuh infus sampai delapan harilah di ruang itu. Sekarang dipindahin ke sini ke ruang cempaka atau kelas tiga,” jelas Hanafi sedikit lega.

Meski sempat mendapat kekecewaan dari pihak rumah sakit yang kurang sigap dalam pelayanan, Tinah dan Hanafi bersyukur karena dengan Jamkesmas tidak harus mengeluarkan biaya pengobatan. “Sepenuhnya melalui Jamkesmas,” ujarnya.

Kini kondisi kesehatan Tinah sedikit demi sedikit membaik. Hanafi hanya berharap ibunya dapat sehat kembali. “Kamar inap ini masih lumayanlah, dibanding tempat tinggal saya. Rumah masih dari kayu dan enggak enak dilihat,” ungkapnya.

Wakil Kepala Ruangan RSU Tangerang Ririn menjelaskan, pihaknya sudah disiapkan sebanyak 82 kamar inap untuk pasien pengguna Jamkesmas. Masing-masing terdiri dari kelas tiga kamar cempaka, dahlia dan kamar soka yang saat ini sedang di perbaiki.

“Kalau kamar kenanga itu kelas satu dan kelas dua. Kadang memang kalau pasien penyakit dalam dimasukan juga ke kamar itu jika kelas tiganya penuh. Namun kami butuh bantuan keluarga untuk menunggu peroses penempatan kamar tersebut,” ujarnya saat dikonfirmasi.

Sementara itu di lain kamar terdengar rintihan sampai teriakan-teriakan dari pasien yang kesakitan. Aming (72), juga mengidap penyakit yang sama seperti Tinah. Warga Kampung Melayu ini tak bisa menelan makanan. Tenggorokannya luka, tangan kirinya nyaris tak mampu digerakan. Di tangan kanannya tertancap jarum infus lengkap dengan selang yang mengarah ke cairan di sebuah tabung.

Nah, dari situlah Aming mendapat asupan makanan dan oksigen. Tempat tidur di pinggir jendela membuat Aming terkadang keluar ruangan sekadar melihat
luar kamar dengan bantuan istrinya Siti (62). “Bapak cuma kuli tani di sawah. Namanya orangtua jadi kerjanya juga ringan-ringan aja. Badannya biasa begerak pas sakit dan tiduran mulu, kadang-kadang dia marah-marah, pengen keluar dan ngajak pulang,” tuturnya.

Nasib Aming tak jauh berbeda dengan Tinah yang menderita stroke. Kehidupan yang pas-pasan membuat Siti sedih saat melihat suaminya terbaring sakit. Kenapa harus seperti ini? Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga, begitulah nasib yang mendera keluarga Tinah dan Aming.

Mereka sudah keyang dengan kemiskinan, tapi ternyata tidak selesai di situ. Penyakit yang terbilang serius juga menghampiri kelas ekonomi rendahan ini sehingga semakin lengkaplah penderitaan mereka.

Adanya fasilitas dari negara berupa Jamkesmas memang sedikit banyak membantu keluarga miskin untuk berobat di rumah sakit. Bagi mereka yang berpenghasilan kecil, biaya berobat akan semakin memperburuk kondisi ekonominya yang sudah miskin semakin melarat jika tidak ada bantuan negara.

Disayangkan, masih terjadi perlakukan diskriminasi terhadap pasien gakin ini dari pihak rumah sakit. Padahal, layanan kesehatan adalah hak asasi bagi setiap warga negara tanpa kecuali yang termaktub dalam konstitusi.

Tinah dan Aming hanya sepenggal kisah dari warga miskin yang masih beruntung bisa mendapat pengobatan layak dengan Jamkesmas. Bagaimana dengan warga miskin lainnya seperti anak jalanan, pengemis, atau gelandangan yang tidak punya Jamkesmas? Ketika sakit parah, kemanakah mereka berobat? Atau malah membiarkan sakit menggerogoti tubuhnya hingga ajal menjemput lantaran tidak sempat berobat ke rumah sakit?

Keunikan Legenda Danau Tolire


At Kie Raha

BERKUNJUNG ke Ternate, Maluku Utara, tidaklah lengkap bila tidak menyempatkan diri mampir ke obyek wisata Danau Tolire.

Danau yang terletak sekitar 10 km dari pusat kota Ternate ini, selain bentuknya unik juga memiliki cerita legenda yang menarik. Danau Tolire berada di bawah kaki Gunung Gamalama, gunung api tertingi di Maluku Utara. Danau itu sendiri terdiri dari dua buah. Masyarakat setempat menyebutnya Danau Tolire Besar dan Danau Tolire Kecil. Jarak antara keduanya hanya sekitar 200 meter.

Dari kedua danau ini, Danau Tolire Besar memiliki keunikan tersendiri. Danau ini menyerupai loyang raksasa. Dari pinggir atas hingga ke permukaan air danau dengan kedalaman sekitar 50 meter dan luas sekitar 5 hektar. Sementara kedalaman danau itu sendiri hingga kini tidak diketahui. Sampai saat ini belum ada yang mengukur kedalaman danau ini. Tetapi menurut cerita leluhur, kedalamannya berkilo-kilo meter dan berhubungan langsung dengan laut.

Danau Tolire Besar ber-air tawar dengan berbagai macam ikan hidup di situ. Namun, warga masyarakat setempat tidak ada yang berani menangkap ikan atau mandi di danau itu. Mereka meyakini bahwa danau yang airnya berwarna coklat kekuning-kuningan itu, dihuni oleh banyak buaya siluman.

Keunikan lain dari danau ini adalah kalau melempar sesuatu ke danau, bagaimana pun kuatnya lemparan dengan menggunakan batu atau benda lain, misalnya, tidak akan pernah menyentuh air danau. Padahal saat melempar dari pinggir atas danau, air danau terlihat berada di bawah kaki si pelempar. Barangkali mereka yang pertama kali berkunjung ke danau itu, tidak akan percaya dengan fakta itu.

Namun, mereka boleh mencoba melemparnya setelah membeli batu yang banyak dijual di pinggir danau seharga Rp 1.000 untuk lima biji batu. Sejauh ini tidak seorang pun mampu melemparkan batu-batu itu hingga menyentuh permukaan air danau.

Banyak harta karun tersimpan di dasar Danau Tolire Besar. Harta karun ini milik masyarakat Kesultanan Ternate saat Portugis menjajah Ternate abad ke-15. Masyarakat Ternate saat itu banyak membuang hartanya yang berharga ke dalam danau agar tak dirampas tentara Portugis.

Sejauh ini belum ada instansi atau pihak tertentu yang melakukan penyelidikan secara khusus atas kebenaran pengakuan masyarakat itu. Namun beberapa waktu lalu, seorang anggota Brimob dengan menggunakan sonar mendeteksi benda-benda yang ada di dasar danau. Hasilnya, terindikasi ada benda-benada logam ‘bersemayam’ di dasar danau itu

Danau Tolire Besar dan Tolire Kecil, menurut cerita masyarakat setempat, dulunya adalah sebuah kampung yang masyarakatnya hidup sejahtera. Kampung ini kemudian dikutuk menjadi danau oleh penguasa alam semesta, karena salah seorang ayah di kampung itu menghamili anak gadisnya sendiri.

Saat ayah dan anak gadisnya yang dihamilinya itu akan melarikan diri ke luar kampung, tiba-tiba tanah tempat mereka berdiri anjlok dan berubah menjadi danau. Danau Tolire Besar dipercaya sebagai tempat si ayah. Sedangkan Danau Tolire Kecil diyakini sebagai tempat si gadis.

Untuk mengunjungi Danau Tolire Besar dan Tolire Kecil, tidaklah sulit. Untuk mencapai tempat itu hanya dibutuhkan waktu sekitar 10 menit dari pusat kota Ternate, dengan menggunakan mobil carteran Rp 250.000 per hari, atau menyewa ojek sepeda motor dengan tarif Rp 10.000 per jam.

Saat mengunjungi Danau Tolire Besar, banyak obyek wisata lainnya yang bisa dinikmati, seperti keindahan panorama puncak Gunung Gamalama, sejumlah benteng peninggalan Portugis dan makan Sultan Babullah, Sultan Ternate yang paling terkenal – yang terdapat di jalan menuju danau tersebut.

Selain itu, `kita` dapat pula menikmati keindahan pasir putih Pantai Sulamadaha, yang terletak hanya sekitar tiga kilomerer dari Danau Tolire Besar. Dari sini, pengunjung juga bisa menyewa perahu untuk memancing ikan atau pergi menyelam menyaksikan keindahan panaroma bawah laut di sekitar pantai itu.

Curhat Alanda Kariza


Kasus Bank Century selama ini lekat dengan gonjang-ganjing politik. Kita belum tahu ujungnya ke mana. Yang pasti, kasus ini telah “mengorbankan” Sri Mulyani yang mundur dari jabatan Menteri Keuangan. Kekuatan-kekuatan politik Indonesia pun tersandera oleh kasus ini.

Namun, lepas dari panasnya suhu politik akibat “tungku” Century yang tak kunjung padam, ada cerita lain yang selama ini tak pernah tersentuh. Century tidak hanya menggusur Sri Mulyani, tetapi juga menggusur cita-cita seorang remaja berusia 19 tahun, Alanda Kariza.

Alanda mencurahkan isi hatinya di blog pribadinya , Selasa (8/2/2011), terkait kasus Century yang ikut membelit ibunya. “Curhat”-an Alanda kemudian ramai diperbincangkan di situs microblogging Twiiter. Simpati dunia maya mengalir untuknya.

Berikut “curhat” ala Alanda Kariza, seorang remaja putri yang sayang kepada Ibunya :

Jika ditanya apa cita-cita saya, saya hampir selalu menjawab bahwa saya ingin membuat Ibu saya bangga. Tidak ada yang lebih menyenangkan dibanding mendengar Ibu menceritakan aktivitas saya kepada orang lain dengan wajah berbinar-binar. Semua mimpi yang saya bangun satu per satu, dan semoga semua bisa saya raih, saya persembahkan untuk beliau.

Belakangan ini, kita dibombardir berita buruk yang tidak habis-habisnya, dan hampir semuanya merupakan isu hukum. Saya… tidak henti-hentinya memikirkan Ibu. Terbangun di tengah malam dan menangis, kehilangan semangat untuk melakukan kegiatan rutin (termasuk, surprisingly, makan), ketidakinginan untuk menyimak berita… Entah apa lagi.

Selasa, 25 Januari 2011, periode ujian akhir semester dimulai. Hari itu juga, Ibu harus menghadiri sidang pembacaan tuntutan. Hampir tidak ada yang tahu apa yang terjadi dengan Ibu saya, yang sejak bulan September 2005 bekerja di Bank Century.

Hanya keluarga dan kerabat dekat kami yang mengetahui bahwa Ibu menjadi tersangka di beberapa kasus yang berhubungan dengan pencairan kredit di Bank Century. Sidang pembacaan tuntutan kemarin merupakan salah satu dari beberapa sidang terakhir di kasus pertamanya.

Sejak Bank Century di-bailout dan diambil alih oleh LPS, kira-kira bulan November 2008 (saya ingat karena baru mendapat pengumuman bahwa terpilih sebagai Global Changemaker dari Indonesia), Ibu sering sekali pulang malam, karena ada terlalu banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.

Saya jarang bertemu beliau. Bahkan, ketika saya berulang tahun ke-18, saya tidak bertemu dengan Ibu sama sekali karena beliau masih harus mengurus pekerjaan di kantor. Itu pertama kalinya saya berulang tahun tanpa Ibu. Seiring dengan diusutnya kasus Century, Ibu harus bolak-balik ke Bareskrim untuk diinterogasi oleh penyidik sebagai saksi untuk kasus-kasus yang melibatkan atasan-atasannya.

Sejak saya kecil, Ibu saya harus bekerja membanting tulang agar kami bisa mendapat hidup yang layak–agar saya mendapat pendidikan yang layak. Ketika saya duduk di SMP, beliau sempat di-PHK karena kantornya ditutup. Kami mengalami kesulitan keuangan pada saat itu, sampai akhirnya saya menerbitkan buku saya agar saya punya “uang saku” sendiri dan tidak merepotkan beliau, maupun Papa.

Ibu sempat menjadi broker properti, berjualan air mineral galonan, sampai berjualan mukena. Adik pertama saya, Aisya, ketika itu masih kecil. Ibu pun mengandung dan melahirkan adik kedua saya, Fara. Akhirnya, ketika buku saya terbit, beliau mendapat pekerjaan di Bank Century. Papa sudah duluan bekerja di sana, tetapi hanya sebagai staf operasional.

Saya lupa kapan… tetapi pada suatu hari, saya mendengar status Ibu di Bareskrim berubah menjadi TSK. Tersangka.

Itu merupakan hal yang tidak pernah terlintas di pikiran saya sebelumnya. Tersangka? Dalam kasus apa? Dituduh menyelewengkan uang?

Sejak Ibu bekerja di Century, hidup kami tetap biasa-biasa saja. Jabatan Ibu sebagai Kepala Divisi boleh dibilang tinggi, tetapi tidak membuat kami bisa hidup dengan berfoya-foya. Orang-orang di kantor Ibu bisa punya mobil mahal, belanja tas bagus, make up mahal… Tidak dengan Ibu. Mobil keluarga kami hanya satu, itu pun tidak mewah. Saya sekolah di SMA negeri dan tidak bisa memilih perguruan tinggi swasta untuk meneruskan pendidikan karena biayanya bergantung pada asuransi pendidikan.

Ibu tidak membiarkan saya mendaftarkan diri untuk program beasiswa di luar negeri–beliau khawatir tidak bisa menanggung biaya hidup saya di sana. Papa di-PHK segera setelah kasus Century mencuat ke permukaan. Papa tidak bekerja, hanya Ibu yang menjadi “tulang punggung” di keluarga saya. Papa dan saya sifatnya hanya “membantu”.

Saat itu, berat sekali rasanya, Ibu memiliki titel “tersangka” di suatu kasus. Saya tidak bisa mendeskripsikan perasaan saya ketika itu. Saya duduk di Kelas III SMA tatkala status Ibu berubah. Ibu jatuh sakit karena tertekan. Tepat satu hari sebelum Ujian Akhir Nasional, Ibu harus diopname, dan saya baru tahu pukul 10 malam karena keluarga saya khawatir hal ini akan mengganggu konsentrasi saya dalam menjalani ujian. Saya tidak lagi bisa memfokuskan pikiran saya terhadap UAN SMA. Pikiran saya hanya Ibu, Ibu, dan Ibu.

Sejak itu, hidup kami benar-benar berubah… walau dari luar, Ibu dan Papa berusaha terlihat biasa-biasa saja. Mereka tidak cerita banyak kepada saya. Mobil dijual dan mereka membeli yang jauh lebih murah. Kami jarang pergi jalan-jalan dan saya jarang mendapat uang jajan. Kami lebih jarang menyantap pizza hasil delivery order. Sopir diberhentikan dan hanya punya satu pembantu di rumah.

Ibu dipindahkan ke kantor cabang, sementara Papa mengalami kesulitan mencari pekerjaan. Saya beruntung, mereka berdua tidak pernah menahan saya dari melakukan hal-hal yang saya mau lakukan, terutama aktivitas Global Changemakers dan IYC. Tapi, saya sadar, bahwa hidup kami benar-benar berubah.

I can live with that. I’m willing to work part time, do internships, and work my ass off to publish more and more books if it would help my parents, especially my mother. Although I don’t have my own car and I can’t shop luxurious stuff just like my friends do, I’m happy, and I’m willing to live like that. Saya mau, meski hal tersebut pasti melelahkan.

Saya memilih beasiswa dari Binus International dibanding Universitas Indonesia, salah satunya juga supaya orangtua saya tidak perlu lagi membiayai pendidikan saya. Supaya uang untuk saya bisa digunakan untuk membiayai pendidikan adik-adik saya. Saya ingin mereka bisa les bahasa Inggris bertahun-tahun seperti saya dulu… siapa tahu mereka bisa memenangi kompetisi-kompetisi internasional yang bergengsi.

Awalnya pun berat bagi Ibu, tetapi lambat laun, Ibu sangat ikhlas. Ibu jarang membagi kesulitannya kepada saya–selalu disimpan sendiri atau dibagi ke Papa. Beliau hanya mengingatkan saya untuk tidak lupa shalat dan berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan nilai-nilai yang baik agar beasiswa tidak dicabut. Dari apa yang dialami Ibu, saya belajar untuk tidak dengan mudah memercayai orang lain. Ibu orang baik dan hampir tidak pernah berprasangka buruk. Tapi, sepertinya kebaikannya justru dimanfaatkan untuk kepentingan orang lain.

Ibu dituduh terlibat dalam pencairan beberapa kredit bermasalah, yang disebut sebagai “kredit komando” karena bisa cair tanpa melalui prosedur yang seharusnya. Beberapa kredit cair tanpa ditandatangani oleh Ibu sebelumnya. Padahal, seharusnya semua kredit baru bisa cair setelah ditandatangani oleh beliau yang menjabat sebagai Kepala Divisi Corporate Legal. Ya, tidak masuk akal.

“Kredit komando” ini terjadi atas perintah dua orang yang mungkin sudah familiar bagi orang-orang yang mengikuti kasus Century melalui berita, Robert Tantular dan Hermanus Hasan Muslim. Dua orang ini sudah ditahan dan seharusnya, menurut saya, kasusnya sudah selesai. Ibu dulu hanya menjadi saksi dalam kasus mereka berdua karena kredit-kredit tersebut cair karena perintah mereka, bukan Ibu. Bahkan, tanda tangan Ibu pun “dilangkahi”. Pertanyaan saya, mengapa Ibu dijadikan tersangka? Nonsens.

Oleh karena itulah, saya optimistis. Saya tahu bahwa Ibu tidak bersalah, walaupun saya ‘awam’ dalam dunia hukum perbankan. Saya selalu berkata kepada Ibu bahwa semua akan baik-baik saja karena itulah yang saya percayai, bahwa negara ini (seharusnya) melindungi mereka yang tidak bersalah, bahwa negara ini adalah negara hukum.

Sampai akhirnya, pada tanggal 25 Januari 2011, sehari sebelum saya ujian Introduction to Financial Accounting, saya harus menerima sesuatu yang, sedikit-banyak, menghancurkan mimpi yang telah saya bangun bertahun-tahun, dalam sekejap.

Hari itu seharusnya menjadi hari yang biasa-biasa saja. Ujian hari itu bisa saya kerjakan dengan baik. Saya pulang cepat dari kampus, tidur siang, bangun dan menonton televisi. Ibu pulang malam. Status BBM salah seorang tante berisi: “Deep sorrow, Arga”. (Nama Ibu adalah Arga Tirta Kirana). Saat itu, untuk sejenak, saya tidak mau tahu apa yang terjadi. Hari itu, Ibu dan Papa pergi ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat untuk mendengar pembacaan tuntutan.

Ibu dituntut kurungan 10 tahun penjara dan denda sebesar 10 miliar rupiah.

Sesak napas. Yang terasa cuma air mata yang tidak berhenti.

Mungkin, ini cuma mimpi buruk… Mungkin, ketika terbangun, ternyata kasus ini sudah berakhir, dan saya bisa menjalani hidup yang “biasa” lagi dengan Ibu, Papa, dan dua adik-adik yang masih kecil. Walau hidup kami tidak mewah, tetapi bahagia. Tidak harus ada sidang, tidak harus ada penyidikan di Bareskrim, tidak harus ada pulang larut karena harus ke kantor pengacara, tidak harus melewatkan makan malam yang biasanya dinikmati bersama-sama.

Saya kangen Ibu masak di rumah: pudding roti, spaghetti, roast chicken, sop buntut, apa pun. Saya kangen pergi ke luar kota, walau cuma ke Bogor, bersama keluarga. Hal-hal kecil yang sudah tidak bisa kami nikmati lagi. Kalau ini hanya mimpi buruk, saya mau cepat-cepat bangun.

Mungkin saya tidak sepintar banyak orang di luar sana, terutama para ahli hukum: mulai dari hakim, jaksa, sampai pengacara ataupun notaris. Saya tiga kali mencoba untuk diterima di FHUI, dan tiga kali gagal. Tapi, saya bisa menilai bahwa tuntutan yang diajukan itu tidak masuk di akal.

Gayus–kita semua tahu kasusnya, kekayaannya, kontroversinya–divonis 7 tahun penjara dan denda 300 juta. Robert Tantular dituntut hukuman penjara selama 8 tahun dan Hermanus Hasan Muslim dituntut hukuman penjara selama 6 tahun dari PN Jakarta Pusat. Lalu, mengapa Ibu 10 tahun? Setolol dan seaneh apa pun saya, saya cukup waras untuk tidak sanggup mengerti konsep tersebut menggunakan nalar dan logika saya. Apakah karena keluarga kami tidak memiliki uang? Ataukah karena Ibu justru terlalu baik?

Ini negara yang saya dulu percayai, negara yang katanya berlandaskan hukum. Atas nama Indonesia, saya dulu pergi ke forum Internasional Global Changemakers. Atas nama Indonesia, saya mengikutisummer course di Montana. Untuk Indonesia, saya memiliki ide dan mengajak teman-teman menyelenggarakan Indonesian Youth Conference 2010.

Indonesia yang sama yang membiarkan ketidakadilan menggerogoti penduduknya. Indonesia yang sama yang membiarkan siapa pun mengambinghitamkan orang lain ketika berbuat kesalahan, selama ada uang. Indonesia yang sama yang menghancurkan mimpi-mimpi saya.

“Apa yang Alanda ingin lakukan sepuluh tahun lagi?”

Sebelumnya saya tahu, saya punya begitu banyak mimpi yang ingin dicapai, untuk membuat Ibu bangga, dan–mungkin–untuk Indonesia. Ingin mendirikan sekolah supaya pendidikan di Indonesia menjadi lebih baik, ingin menyelenggarakan IYC terus-menerus agar ada banyak agen perubahan di Indonesia, ingin ini dan ingin itu.

Keinginan-keinginan itu mati tanpa diminta. Sekarang hanya ingin Ibu bebas dari seluruh kasus tersebut. Sekarang hanya ingin hidup bahagia bersama Ibu, Papa, dan adik-adik–di rumah kami yang tidak besar, tetapi cukup nyaman; jalan-jalan dengan mobil yang tidak mahal, tetapi bisa membawa kami pergi ke tempat-tempat menyenangkan.

Saya mau ada Ibu di ulang tahun saya yang kedua puluh, dua minggu lagi. Saya mau ada Ibu di peluncuran buku saya–seperti biasanya. Saya mau ada Ibu waktu nanti saya lulus dan diwisuda. Saya mau ada Ibu ketika saya suatu hari nanti menikah. Saya mau ada Ibu ketika saya hamil dan melahirkan anak-anak saya.

Uang, politik, hukum yang ada di negara ini menghancurkan bayangan saya tentang hal itu. Mungkin selamanya pilar-pilar hukum hanya akan mempermasalahkan kredit-kredit macet, menjebloskan orang-orang ‘kecil’ ke penjara tanpa bukti dan analisis yang komprehensif (maupun putusan yang masuk di akal), bukan 6,7T yang entah ada di mana saat ini.

Mungkin hal-hal seperti ini yang membuat pemuda-pemuda optimis berhenti berkarya untuk Indonesia. Mungkin hal-hal seperti ini yang membuat individu-individu brilian memilih untuk tinggal dan berkarya bagi negara lain… agar keluarga mereka tetap utuh. Supaya mereka tidak harus menghadapi ketidakadilan yang menjijikkan seperti ini.

Saya mau Ibu ada di rumah, Indonesia. Tidak di penjara, tidak di tempat lain, tetapi di rumah, bersama saya, Papa, Aisya, dan Fara.

Hari Kamis, Ibu akan membacakan pleidoi (pembelaan) di PN Jakarta Pusat. Ibu akan menceritakan seluruh kejadian yang beliau alami dan mengapa seharusnya beliau tidak mengalami tuduhan apalagi tuntutan ini.

Saya mohon doanya buat Ibu, walau mungkin Anda tidak pernah mengenalnya. Ia berjasa besar bagi saya, dan saya yakin, bagi banyak orang di luar sana. Beliau membutuhkan doa, dukungan, dan bantuan dari banyak orang.

Even if I have to let Indonesian Youth Conference go, even if I have to work hard 24/7 to live without having to ask for allowances from my mother… I’m willing to do so.

I just want her to stay with me… instead of behind those scary bars. I just want her to witness everything that I will achieve in the future. I just want her to see my little sisters grow up, beautifully. I just want her to always be there around the dining table, and we’ll have dinner together. I just want her to cook again for the whole family on Sunday mornings. I just want her to let me drive for her when she has to go somewhere. I just want her to listen to my stories about my boyfriend, my friend, campus life, or silly little things. I just want her here… Here.

I love you, Mum. I do… 😥

 

 

 

Aplikasi SAKPA 2011 – Penganggaran Berbasis Kinerja


Direktorat Jenderal Perbendaharaan telah melaunching aplikasi SAKPA 2011. Aplikasi tersebut menurut publikasi yang disampaikan di http://www.perbendaharaan.go.id maupun yang tertera di tampilan depan aplikasi, telah menggunakan penganggaran berbasis kinerja.

Secara garis besar, menu-menu pada aplikasi tersebut tidak mengalami perubahan yang drastis, masih sama dengan aplikasi SAKPA 2010. Hal tersebut juga masih berlaku untuk menu rekonsiliasi BMN, menu tersebut merupakan menu rekonsiliasi internal antara SIMAK BMN dan SAKPA.

Untuk download aplikasi SAKPA 2011, berikut beberapa link yang dapat digunakan :

1. www.perbendaharaan.go.id

2. www.kpknljember.djkn.or.id

3. ekolumajang.wordpress.com

Semoga bermanfaat.

Penetapan Status Penggunaan BMN Pada KPKNL Jember


sumber : http://www.kpknljember.djkn.or.id

Gedung KPKNL Jember

KPKNL Jember sebagai salah satu instansi vertikal Direktorat Jenderal Kekayaan Negara di daerah, selain memiliki fungsi sebagai Pengelola Barang, juga merupakan Unit Akuntansi Kuasa Pengguna Barang / satuan kerja yang mempunyai kewajiban untuk mengajukan Barang Milik Negara yang berada di KPKNL Jember selaku UAKPB untuk ditetapkan status penggunaannya oleh Pengelola Barang (Menteri Keuangan cq. Direktorat Jenderal Kekayaan Negara).

Sebagai salah satu bentuk dari pelaksanaan tertib pengelolan BMN sebagaimana diamanatkan oleh Peraturan Menteri Keuangan Nomor 96/PMK.06/2007 tentang Tata Cara Pelaksanaan Penggunaan, Pemanfaatan, Penghapusan dan Pemindahtanganan Barang Milik Negara, maka ditetapkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor : 01/KM.6/WKN.10/KNL.04/2011 tentang Penetapan Status Penggunaan Barang Milik Negara Pada Kementerian Keuangan Yang Digunakan Oleh Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang Jember.

Nilai Barang Milik Negara yang ditetapkan di Keputusan Menteri Keuangan tersebut sebesar Rp 767.440.308,00 (tujuh ratus enam puluh tujuh juta empat ratus empat puluh ribu tiga ratus delapan rupiah), selain itu, sesuai Keputusan Menteri Keuangan tersebut Pengguna Barang wajib melakukan monitoring dan evaluasi atas optimalisasi penggunaan Barang Milik Negara.

download KMK 01 Tahun 2011 selengkapnya disini

Pemilihan Ketum PSSI Digelar Maret


Pemilihan ketua umum PSSI digelar pada bulan Maret mendatang di Bintan.

Di tengah Kongres PSSI yang digelar tertutup pada hari ini, beredar informasi di area kongres dan kalangan wartawan bahwa pemilihan ketua umum PSSI digelar pada bulan Maret.

Pemilihan suksesor Nurdin Halid itu digelar pada 19 Maret. Acara tersebut menurut rencana digelar di Nirwana Gardens Bintan Resort, Bintan.

Ketua umum yang baru akan menjabat untuk periode 2011-2015.

mudah-mudahan pemilihan ketua umum PSSI pada bulan Maret 2011 mendatang menjadi awal lembaran baru bagi persepakbolaan di Indonesia menuju kesuksesan, semoga !!!

Irfan Bachdim Pun Diklaim Malaysia


"pemanasan"

Perang antara suporter tim nasional Indonesia dan Malaysia di dunia maya menjelang laga final piala AFF 2010 semakin panas. Ejekan yang berbau SARA pun menjadi senjata setiap kubu untuk melakukan intimidasi.

Seperti adu komentar di sebuah website forum komunitas online http://www.topix.com. “Perang” di forum ini benar-benar syarat ocehan saling hujat. Sebuah posting dari seorang member bahkan dikomentari sampai 1.228 orang. Betapa tidak, posting ini memang memicu kubu suporter Indonesia untuk bereaksi. Posting itu berbunyi “irfan bachdim asli malaysia”.

Posting “irfan bachdim asli malaysia” itu sebenarnya sudah dikirim pada 7 Desember lalu, beberapa hari setelah Indonesia berhasil mencukur Malaysia dengan skor telak 5-1 pada 1 Desember lalu. Pengirim pertama bernama akun Haikal. Anehnya, Haikal mengaku sebagai warga negara Indonesia.

“SAYA ORANG INDONESIA. DAN SAYA MENGAKU JIKALAU IRFAN BACHDIM SEBENARNYA ORANG MALAYSIA. DIA PERNAH MOHON JADI WARGA NEGARA MALAYSIA. NAMUN DITOLAK MENTAH2 SAMA MALAYSIA,” tulis Haikal.

Sontak saja posting ini langsung mendapat banyak tanggapan. Member yang mengaku dari Malaysia pun mengomentarinya. “Baguslah ind** akhirnya cakap jujur!,” tulis Saffar.

Saling balas komentar pun terus berlanjut. Member yang mengaku sebagai suporter Indonesia angkat bicara. Mereka menuding kubu Malaysia sebagai negara tukang klaim yang sering mengakui sesuatu yang berasal dari Indonesia. Sampai-sampai Irfan Bachdim yang jelas-jelas berdarah asli Indonesia diklaim oleh kubu lawan.

Komentar atau posting yang ditulis di forum ini tidak bisa dipertanggungjawabkan. Para member-nya pun tak jelas. Bisa jadi posting pertama dari Haikal itu hanya ulah orang iseng saja.

 

Anggit Pasrah Dibenci Luna Maya


LM

Tatapan penuh kebencian ditunjukan Luna Maya ketika melihat Anggit di persidangan Ariel, Senin, 20 Desember. Tak ada yang bisa dilakukan Anggit selain pasrah dan memaklumi kebencian Luna.

“Saya maklum sama mbak Luna. Mungkin dia belum tahu saya kayak apa. Karena selama ini kabar yang di-blow up itu katanya saya anak jendral dan saya penyebarnya. Mungkin dia (Luna) termakan isu itu,” kata Anggit saat ditemui di Wisma Kodel, Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa, (21/12/2010) malam.

Anggit sadar, kebencian tak hanya datang dari Luna Maya. Sebab, beberapa fans Peterpan dan Luna Maya juga ikut mengecam. Bahkan ikut membantu menyebar foto Anggit ke dunia maya.

“Saya tahu banyak yang mencap saya negatif. Saya tidak bisa apa-apa selain saya mau jelaskan saya bukan peng-upload atau penyebar video itu,” bebernya.

Khawatir kebencian itu menjadi ancaman, keluarga Anggit mulai memberikan pengawalan. Apalagi di dunia maya, Anggit menjadi buruan utama para pendukung Ariel.

“Apalagi setelah penyebaran foto Anggit di internet itu kita merasa perlu untuk mengawal Anggit. Sebagai keluarga, tentu saya tidak mau Anggit terluka,” ujar Uus Sumirat, salah satu keluarga Anggit.

Seperti diketahui, Anggit Gagah Pratama masih berstatus sebagai saksi dalam kasus video porno Ariel. Namun, Anggit siap jika kelak ditetapkan sebagai tersangka penyebaran video porno yang menghebohkan itu.