Museum Pendidikan Surabaya, Ada Peran DJKN lho…


Peta Museum Pendidikan Surabaya

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini November 2019 lalu baru saja meresmikan Museum Pendidikan Surabaya di Jalan Genteng Kali Nomor 10, Surabaya, Jawa Timur, bertepatan dengan momentum peringatan Hari Guru, Senin (25/11/2019) pagi. Risma menyampaikan, gedung eks Taman Siswa itu tak ada satu pun yang diubah dari bentuk aslinya, yang dilakukan Pemkot Surabaya hanya memperbaiki.

Museum Pendidikan yang berada di Jalan Genteng Kali No. 10 Surabaya ini dahulu merupakan bangunan eks Sekolah Taman Siswa dengan seluas 1.452 meter persegi.

Bangunan yang berdiri megah dengan arsitektur kuno ini, menyimpan 860 koleksi dari berbagai peninggalan masa lampau hingga sekarang. Menariknya, benda sejarah peninggalan Bapak Pendidikan Nasional Ki Hajar Dewantoro juga tersimpan di dalam museum ini.

Peran DJKN

Tanah dan bangunan yang sekarang menjadi Museum Pendidikan Surabaya tersebut, sebelumnya merupakan Aset Bekas Milik Asing/Tionghoa yang dikelola oleh Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) dalam hal ini Kanwil DJKN Jawa Timur. Pada bulan Mei 2019 lalu, Kanwil DJKN Jawa Timur menyerahkan ke Walikota Surabaya untuk menjadi Barang Milik Daerah (BMD).

Pada saat itu, atas nama Menteri Keuangan, Etto Sunaryanto, Kepala Kanwil DJKN Jawa Timur, selaku Ketua Tim Asistensi Daerah (TAD) Kanwil DJKN Jawa Timur menyerahkan aset berupa ABMA/T SMP/SMA Taman Siswa dengan luas tanah 1.452 m2 di Jalan Genteng Kali Kota Surabaya.

Penyerahan ABMA/T ini adalah pelaksanaan Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 31/PMK.06/2015 tentang Penyelesaian Aset bekas Milik Asing/Tionghoa dan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 96/KM.6/2019 tentang Penyelesaian Status Kepemilikan Aset Bekas Milik Asing/Tionghoa SMP/SMA Taman Siswa luas tanah 1.452m2 di Jalan Genteng Kali Nomor 10, Kelurahan Genteng, Kecamatan Genteng, Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur, dengan Cara Pemantapan Status Hukum Menjadi Barang Milik Daerah.

Berita lengkap serah terima dapat dilihat disini.

Foto-Foto Museum Pendidikan Surabaya

Diolah dari berbagai sumber

Menurut MK: Leasing Tak Bisa Lagi Asal Tarik Kendaraan, Harus Lewat Pengadilan


Ilustrasi foto: Debitor melihat kendaraan akan ditarik leasing

Mahkamah Konstitusi (MK) mengabulkan sebagian gugatan yang diajukan pasangan suami istri, Suri Agung Prabowo dan Aprilliani Dewi, terhadap Pasal 15 ayat (2) dan ayat (3) UU Jaminan Fidusia

Dalam putusan nomor 18/PUU-XVII/2019 itu, MK menyatakan kreditur (leasing) tidak bisa lagi secara sepihak mengeksekusi atau menarik objek jaminan fidusia seperti kendaraan atau rumah, hanya berdasar sertifikat jaminan fidusia.

MK memutuskan yang ingin menarik kendaraan harus mengajukan permohonan kepada pengadilan negeri. Tetapi eksekusi sepihak oleh kreditur tetap bisa dilakukan, asalkan debitur mengakui adanya cidera janji (wanprestasi) dan secara sukarela menyerahkan objek jaminan fidusia.

Sehingga untuk melindungi debitor, MK menyatakan norma Pasal tersebut berlaku konstitusional bersyarat.

MK menyatakan Pasal 15 ayat (2), khususnya frasa ‘kekuatan eksekutorial’ dan ‘sama dengan putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap’, tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat sepanjang tidak dimaknai ‘terhadap jaminan fidusia yang tidak ada kesepakatan tentang cidera janji (wanprestasi) dan debitur keberatan menyerahkan secara sukarela objek yang menjadi jaminan fidusia, maka segala mekanisme dan prosedur hukum dalam pelaksanaan eksekusi Sertifikat Jaminan Fidusia harus dilakukan dan berlaku sama dengan pelaksanaan eksekusi putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap

Sementara Pasal 15 ayat (3) khusus frasa ‘cidera janji’ tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat sepanjang tidak dimaknai ‘adanya cidera janji tidak ditentukan secara sepihak oleh kreditur melainkan atas dasar kesepakatan antara kreditur dengan debitur atau atas dasar upaya hukum yang menentukan telah terjadinya cidera janji’.

Unduh Putusan MK selengkapnya: klik disini

Diolah dari berbagai sumber.

Berikut Keterampilan yang Wajib Kamu Kuasai di Dunia Kerja


Tanpa keterampilan bahasa, si Pintar tampak dungu. Sebaliknya, si Dungu tampak pintar dengan bermodal lidah yang fasih atau pena yang tajam.

Ketika memasuki dunia kerja, seseorang harus dapat mengungkapkan gagasannya dengan efektif. Dari empat keterampilan bahasa dasar (menyimak, berbicara, membaca, dan menulis), ada empat keterampilan bahasa praktis yang perlu dikuasai oleh seorang pekerja profesional, yakni membuat surat, menyusun laporan, menyajikan presentasi, dan melaksanakan rapat.

Gambar Empat Keterampilan Bahasa Praktis di Dunia Kerja

Membuat Surat

Tugas pertama yang galib diberikan kepada seorang karyawan baru adalah membuat surat resmi. Sinonim untuk surat-menyurat adalah korespondensi. Surat memiliki fungsi sebagai sarana komunikasi untuk menyampaikan pemberitahuan, permintaan, atau gagasan. Selain itu, surat juga dapat berfungsi sebagai bukti tertulis (misalnya surat perjanjian) atau pedoman kerja (misalnya surat keputusan).

Jenis surat dapat dilihat dari berbagai segi, seperti segi pemakaian, wujud, keamanan, urgensi, penerima, dan tujuan. Pada dasarnya, ada dua bentuk surat yang berbeda tajam, yaitu bentuk lurus (block style) dan bentuk lekuk (indented style).

Bagian surat bergantung pada jenis surat. Surat resmi secara umum dibagi menjadi tiga bagian, yaitu bagian awal, bagian isi, dan bagian akhir. Bagian awal terdiri atas (1) kepala surat, (2) tanggal surat, (3) keterangan surat, dan (4) alamat surat. Keterangan surat umumnya terdiri atas nomor, lampiran, dan perihal surat. Bagian isi terdiri atas (1) salam pembuka, (2) isi surat, dan (3) salam penutup. Bagian akhir terdiri atas (1) penanggung jawab surat, (2) tembusan, dan (3) inisial pembuat surat.

Menyusun Laporan

Setelah membuat surat, tugas berikutnya yang diberikan kepada karyawan adalah membuat laporan. Laporan menyajikan informasi untuk tujuan dan audiens tertentu secara sistematis. Ada banyak cara untuk menyusun sistematika laporan bisnis yang efektif sesuai dengan jenis laporan. Jenis laporan dapat dikelompokkan berdasarkan pada sifat, formalitas, panjang, arah, waktu, fungsi, dan bentuk. Berdasarkan sifat, misalnya, laporan dapat dikelompokkan menjadi laporan laporan informasi, analisis, dan proposal.

Salah satu sistematika laporan yang lazim digunakan ialah dengan membagi laporan menjadi tiga bagian, yaitu (1) bagian awal, (2) bagian isi, dan (3) bagian akhir. Bagian awal laporan berisi informasi pendahuluan yang menjadi dasar pertimbangan pembaca untuk meneruskan membaca laporan. Bagian isi laporan berisi teks inti laporan yang umumnya dibagi menjadi tiga subbagian, yaitu (a) pendahuluan, (b) pembahasan, dan (c) penutup. Bagian akhir laporan berisi informasi tambahan bagi pembaca yang memerlukan detail lebih lanjut, seperti lampiran dan bibliografi.

Menyajikan Presentasi

Laporan yang telah dibuat perlu dipresentasikan. Presentasi bisnis adalah penyajian suatu topik bisnis, seperti usulan proyek, produk baru, dan perluasan pasar, kepada audiens tertentu dengan tujuan tertentu. Penguasaan terhadap audiens diawali analisis terhadap enam pertanyaan dasar siapa, apa, di mana, kapan, mengapa, dan bagaimana atau yang dikenal dengan akronim asdikamba atau singkatan 5W1H (who, what, where, when, why, dan how). Secara umum, ada empat tujuan utama presentasi bisnis, yaitu berbagi informasi, memberi hiburan, menyentuh emosi, dan memotivasi tindakan.

Ada lima aspek yang perlu dikuasai di dalam presentasi bisnis, yaitu penyaji, bahan, alat, tempat, dan audiens. Penyaji (orang yang menyajikan presentasi) mesti menguasai diri agar tampak meyakinkan ketika memberikan presentasi. Penguasaan bahan yang dipresentasikan merupakan salah satu faktor penumbuh kepercayaan diri pada penyaji. Penyaji juga perlu menguasai alat bantu presentasi dan mengenali tempat presentasi untuk memudahkan pelaksanaan presentasi. Terakhir, penyaji perlu menguasai audiens: siapa mereka dan apa yang mereka harapkan.

Melaksanakan Rapat

Rapat bisnis adalah pertemuan dua orang atau lebih di suatu tempat untuk membahas hal-hal yang berkaitan dengan tujuan bisnis. Rapat sering membuang-buang waktu, tenaga, dan biaya, tetapi tidak efektif mencapai hasil yang diharapkan. Agar efektif, rapat perlu disiapkan, dilaksanakan, dan diselesaikan dengan baik.

Lima aspek yang perlu disiapkan sebelum rapat dilangsungkan adalah tujuan, partisipan, agenda, bahan, dan fasilitas rapat. Setelah itu, rapat dilaksanakan dengan memperhatikan kepemimpinan, partisipasi, aturan, dan dokumentasi rapat. Setelah rapat, dokumentasi rapat didistribusikan kepada partisipan dan pihak berkepentingan lainnya. Jika ada, penugasan tindak lanjut harus ditentukan dan dikomunikasikan dengan jelas. Tindak lanjut tersebut selanjutnya perlu dipantau pelaksanaannya antara lain untuk bahan diskusi pada rapat berikutnya.

Penutup

Keempat keterampilan bahasa praktis yang diuraikan pada tulisan ini perlu dikuasai untuk memperlancar karier. Seperti disampaikan pada paragraf pembuka, kepintaran seseorang acap tenggelam hanya karena dia tidak mampu menyampaikan dengan baik.

Sumber: klik disini

Lupa Jumlah Rakaat Sholat


Duhhh… sekarang rakaat keberapa ya?

Lupa merupakan sifat yang tidak dapat dilepaskan dari diri manusia. Sifat ini sudah menempel semenjak manusia pertama berada di bumi ini. Bahkan, seorang Nabi pun tidak dapat menghindar dari kelupaan. Dalam sebuah riwayat Nabi SAW menyatakan, terkadang aku lupa supaya menjadi pelajaran bagi kalian (HR Malik).

Maksudnya, dengan lupanya Nabi SAW para sahabat bisa mengambil pelajaran dan tahu apa yang harus dilakukan ketika ingat atau sadar. Terutama kelupaan yang berkaitan dengan ibadah.
Di antara bentuk kealpaan yang sering terjadi ialah lupa rakaat shalat. Acap kali pikiran kita melayang dan mengkhayal entah ke mana sehingga shalat pun tidak fokus. Ketika kalimat salam terucap dari mulut sang Imam, barulah kita sadar bahwa kita sedang mengerjakan shalat. Parahnya, setelah salam dan diam sejenak baru kita menyadari ada satu atau dua rakaat yang tidak ditunaikan.

Apabila kondisi ini menimpa seseorang, ada beberapa hal yang dapat dilakukan berdasarkan penjelasan al-Qaffal dalam kitabnya Hilyatul Ulama fi Ma’rifatil Madzahibil Fuqaha.

Berikut kutipannya:

وإن نسي ركعة من ركعات الصلاة وذكرها بعد السلام فإن لم يتطاول الفصل أتى بها وبنى على صلاته وإن تطاول الفصل استأنفها وفي حد التطاول أوجه أحدها قال أبو إسحاق إن مضى قدر ركعة فهو تطاول وقد نص عليه الشافعي رحمه الله في البويطي والثاني أنه يرجع فيه إلى العرف والعادة فإن مضى ما يعد تطاولا استأنف وإن مضى ما لايعد تطاولا بنى والثالث قال أبو علي بن أبي هريرة إن مضى قدر الصلاة التى نسي فيها استأنف وإن كان دون ذلك بنى

Jika lupa sebagian raka’at shalat dan baru ingat setelah salam, kita boleh menambahkan rakaat yang dilupakan secara langsung bila selang waktunya tidak terlalu lama. Apabila jeda keduanya terlalu lama, kita wajib mengulang shalat secara keseluruhan. Ulama berbeda pendapat perihal seberapa lama selang waktunya. Menurut Abu Ishaq, jeda keduanya hanya kisaran durasi satu rakaat. Jika jedanya kurang dari durasi satu rakaat, dia boleh menambahkan bilangan rakaat yang terlupakan.

Tetapi bila melebihi kadar satu rakaat shalat, ia diwajibkan mengulang shalat. Pendapat ini merupakan pandangan Imam asy-Syafi’i sebagaimana dikutip al-Buwaiti. Pendapat kedua mengatakan, takaran jeda keduanya didasarkan pada kebiasaan atau tradisi masyarkat setempat.

Bila menurut kebiasaan masyarakat, durasi jeda sudah terlalu lama, ia harus mengulang shalat. Tetapi jika durasi jedanya sebentar, ia hanya diwajibkan menambah raka‘at yang dilupakan.

Sementara menurut pendapat ketiga sebagaimana dikatakan Abu ‘Ali Ibnu Abu Hurairah, durasi jeda antara lupa dan menyempurnakan kekurangan raka’at diukur berdasarkan ukuran lamanya rakaat shalat yang dilupakan.

Apabila jedanya kelewat lama, ia mesti mengulang dari awal. Kalau hanya sebentar, ia cukup menyempurnakan kekurangan raka’at yang terlupa. Praktisnya, apabila kita mengerjakan shalat dzuhur, kemudian setelah salam baru ingat bahwa ada beberapa rakaat yang terlupa, kita diperbolehkan untuk langsung berdiri menyempurnakan rakaat yang tertinggal.

Namun jika selang waktunya terlalu lama, kita diwajibkan untuk mengulang shalat dzuhur dari awal sebanyak empat rakaat. Terkait berapa lama selang waktunya, para ulama berbeda pendapat sebagaimana yang disebutkan di atas. Wallahu a‘lam. (Hengki Ferdiansyah)

Sumber: klik disini

Kok Tidak Ada Guling di Kamar Hotel?


Bila Anda bermalam di hotel, guling menjadi perlengkapan tidur yang jarang dijumpai. Anda yang terbiasa tidur dengan guling harus puas memeluk bolster atau bantal yang berukuran lebih panjang. Lantas, mengapa tidak ada guling di kamar hotel?

Sebelum membahas mengapa jarang dijumpai guling di hotel. Mari kita ulik asal muasal guling. Guling yang biasa ditemui di Indonesia merupakan hasil dari perpaduan budaya Belanda, Indonesia, dan China yang lahir pada abad 18-19. Kala itu, orang-orang Belanda yang datang ke Indonesia tak membawa serta istri atau pun pasangannya. Sebagai pemenuh hasrat sexualnya, mereka membayar gundik. Namun, konon, orang-orang Belanda ini terkenal sebagai sosok yang pelit.

Sehingga, alih-alih menggundik, mereka memilih membuat guling yang setia menemani sepanjang malam. Dan, tentunya tanpa upah atau bayaran sepeser pun. Munculnya ide penggunaan guling sebagai teman tidur orang Belanda ini pun dipengaruhi budaya Asia Timur seperti China dan Jepang yang masuk ke wilayah Nusantara. Di China, guling disebut dengan nama ‘zhufuren’. Di Korea, guling dikenal dengan nama ‘jukbuin’. Lalu, di Jepang, guling bernama ‘chikufujin’.

Semuanya mengacu pada guling dengan bentuk memanjang hanya saja terbuat dari bambu. Orang-orang Belanda tak menyebutnya dengan guling, tapi diberinama “Dutch Wife”. Menariknya, istilah tersebut dicetuskan oleh Letnan Gubernur Jenderal Inggris, Raffles. Sebutan “Dutch Wife” ini pun lebih pada sebuah ejekan dari Inggris yang tak suka pada Belanda. Apalagi kata “Dutch” sering diidentikkan dengan sesuatu yang bernada ejekan dan merendahkan. Dalam kamus Oxford English Dictionary yang disusun dari tahun 1879 hingga 1927, istilah “Dutch Wife” punya definisi sendiri, yaitu sebuah kerangka berlubang-lubang dari rotan yang digunakan di Hindia Belanda dan lain-lain untuk sandaran anggota badan di tempat tidur.

Sejak saat itu, guling pun akhirnya menjadi gaya hidup golongan-golongan atas–orang Belanda, saudagar kaya. Lalu, kaum-kaum priyayi pribumi hanya ikut-ikutan dengan gaya hidup Belanda. Seperti yang dituliskan Pramoedya Ananta Toer dalam novel berjudul ‘Jejak Langkah’. “Mereka hanya meniru-niru orang Belanda. Yang datang dari Belanda serta-merta ditiru orang, terutama para priyayi berkepala kapuk itu. Inggris mengetawakan kebiasaan berguling.” Bagi orang Indonesia, guling semacam teman tidur yang wajib ada di kasur, termasuk kasur hotel sekalipun. Guling itu nyaman untuk dipeluk (meksipun jomblo, hiks) juga bisa meningkatkan kualitas tidur.

Manfaat lain bisa melancarkan peredaran darah serta bikin tidur lebih sehat. Lalu kenapa sih nggak ada guling di kamar hotel. Berikut beberapa alasannya, silakan kamu pilih alasan mana yang paling logis. Oke yuk kita bahas.

  1. Kiblat hotel adalah gaya hidup western. Jadi dalam pelayanan hotel ala barat tidak dikenal istilah guling.
  2. Guling bisa jadi sangat tidak higienis karena dipeluk oleh tamu-tamu sebelumnya. Banyak tamu yang jijik dengan guling karena dianggap kotor.
  3. Orientasi tamu hotel adalah turis. Turis asing tidak mengenal istilah guling bahkan tidak tau ada benda seperti itu
  4. Tamu yang menginap di hotel biasanya membawa pasangan. Hal itu yang bikin guling tidak terlalu bermanfaat lagi.
  5. Di beberapa hotel ada, tapi memang tidak disediakan di kamar. Kalau kamu minta biasanya akan diberikan kok

Nah… sudah paham kan kenapa alasannya… Jadi kamu enggak penasaran lagi…. Selamat beristirahat. Diolah dari berbagai sumber

 

Apa Yang Harus Dilakukan Link Aja, Kejar Gopay dan OVO?


Perusahaan teknologi finansial (fintech) pembayaran seperti GoPay, OVO, DANA dan Link Aja semakin familiar digunakan oleh masyarakat. Disamping penggunaan nya yang mudah, banyak promo yang diberikan oleh mereka menjadi daya tarik bagi masyarakat untuk menggunakannya. Empat fintech tersebut, rata-rata terinstal di smartphone kita, tergantung fintech mana yang memberikan promosi paling besar, maka itulah yang digunakan oleh customer.

Namun demikian, promo bukan satu-satunya pemilihan kita menggunakan fintech 4 besar tersebut, yang utama adalah kemudahan akses penggunaan. Seperti GoPay, dompet digital milik Gojek ini selain digunakan untuk keperluan transportasi layanan Gojek seperti Go Ride, Go Car juga banyak digunakan untuk Go Food.

Selanjutnya aplikasi e-wallet milik Lippo Group, OVO digunakan untuk semua layanan pada Grab, Tokopedia hingga beberapa maskapai penerbangan. Berikutnya dompet digital besutan Alipay, DANA menjadi aplikasi fintech ketiga yang paling sering digunakan, DANA memudahkan customer untuk membeli tiket bioskop tanpa antri melalui TIX ID.

 

Namun Link Aja yang merupakan layanan keuangan digital besutan beberapa BUMN masih berada di posisi keempat, dikarenakan akses penggunaan masih sulit dilakukan.  Jadi kesimpulannya, bila Link Aja ingin bersaing dengan fintech GoPay, OVO dan DANA, maka Link Aja harus mempermudah akses penggunaan, karena selama ini Link Aja masih belum terlalu dikenal. Salah satu cara paling mudah untuk memperkenalkan Link Aja, adalah dengan menggandeng perusahaan ojek online seperti daftar ini. Serta memberikan promo-promo merchant yang sering menjadi jujukan orang.

 

 

 

 

 

Diolah dari berbagai sumber

Daftar Ojek Online Penantang Gojek dan Grab


Setelah sempat ramai akibat diprotes Driver Gojek dan Grab akibat perang tarif, Maxim ternyata bukan satu-satunya ojol penantang Gojek dan Grab di Indonesia
Selain Maxim, sudah masuk terlebih dahulu ojek online penantang Gojek dan Grab yang bisa dibilang sebagai pionir. Berikut ini di antaranya:

1. Gaspol
Gaspol merupakan salah satu penantang Gojek dan Grab. Drivernya menggunakan helm ‘bersayap’ layaknya hero di film ‘Gundala’ sebagai atribut dan jaket berwarna merah.
Lisa Subandi CEO Gaspol mengatakan terciptanya layanan transportasi online ini bermula dari keresahan dan kepeduliannya serta dua temannya, Salim dan Abiraja terhadap kesejahteraan driver.

2. Blu-jek
Blu-Jek muncul dari tahun 2015. Jangan salah, dari namanya banyak yang salah mengira bahwa Blu-jek terafiliasi dengan Blue Bird padahal tidak ada kaitannya sama sekali.

3. LadyJEK
Selain itu, tantangan di tahun 2015 yang dimiliki Gojek dan Grab adalah aplikasi LadyJEK.
“Ya benar kami, ini merupakan layanan aplikasi ojek yang khusus untuk melayani wanita saja,” kata Direktur LadyJEK Brian Mulyadi beberapa waktu lalu.

4. Ojesy

Pernah dengar nama ojek online Ojesy? Nama yang tersemat pada ojol ini merupakan singkatan dari ojek syariah.

Kini Ojesy telah berganti nama menjadi SyariHub yang memiliki fitur misalnya langganan bulanan antar jemput anak, malahan ada juga SyariHub untuk jadi mentoring melantunkan ayat Al-Qur’an.

5. Cyberjek

Aplikasi penyedia layanan ojek online tersebut dihadirkan oleh Koperasi TASS Indonesia Nusantara (Koptassindo).

Cyberjek resmi diluncurkan ke publik pada Senin (26/8/2019) di Sport Center Hotel Bumi Wiyata, Depok. Aplikasi jasa online ini dimiliki oleh PT. Margonda Tranpotasi. Cyberjek sendiri menyediakan berbagai pelayanan bagi para penumpang, terdiri dari CyberRide, CyberCab, CyberFood, dan CyberSend.

Diolah dari berbagai sumber.